SURABAYA, Garudasatunews.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama PT Jatim Grha Utama (JGU) mempercepat pengembangan kawasan Puspa Agro menjadi Jatim Hub Nusantara Gateway, fasilitas dry port berbasis karantina dan kepabeanan yang diklaim sebagai sistem layanan terpadu pertama di Indonesia. Proyek ini diproyeksikan menjadi simpul strategis ekspor-impor sekaligus mengurangi kepadatan arus logistik di Pelabuhan Tanjung Perak.
Direktur Utama JGU, Mirza Muttaqien, mengungkapkan bahwa Jatim Hub Nusantara Gateway telah memperoleh konfirmasi sebagai fasilitas pertama di Indonesia yang menerapkan sistem join inspection atau pemeriksaan terpadu. Dalam skema tersebut, laboratorium pengujian, layanan karantina, dan kepabeanan ditempatkan dalam satu kawasan sehingga proses pemeriksaan komoditas dapat dilakukan secara terintegrasi.
Menurut Mirza, model layanan tersebut diharapkan mampu memangkas waktu tunggu dan biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan dalam rantai distribusi barang ekspor maupun impor. Dengan pemusatan layanan di satu lokasi, proses pemeriksaan tidak lagi seluruhnya dilakukan di pelabuhan.
Untuk mendukung operasional kawasan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga tengah mempercepat pembangunan akses jalan penghubung sepanjang 1,2 kilometer. Infrastruktur tersebut ditargetkan selesai pada Oktober 2026 guna memastikan konektivitas kawasan dengan jaringan distribusi utama.
Berdasarkan rencana pengembangannya, Jatim Hub Nusantara Gateway tidak hanya melayani komoditas asal Jawa Timur. Kawasan ini disiapkan sebagai pusat konsolidasi berbagai komoditas dari sejumlah daerah di Indonesia sebelum dikirim ke pasar internasional melalui jalur ekspor di Jawa Timur.
Data yang disampaikan pengelola menunjukkan pertumbuhan arus kontainer di Jawa Timur mencapai sekitar 11 persen sepanjang periode 2025–2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar percepatan pembangunan fasilitas dry port yang dirancang memiliki kapasitas pelayanan hingga 249 kontainer per hari.
Mirza menjelaskan, pola layanan yang diterapkan nantinya akan memindahkan proses pemeriksaan karantina dan kepabeanan dari area pelabuhan ke kawasan Jatim Hub. Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi kepadatan di pelabuhan sekaligus meningkatkan efisiensi proses logistik.
Meski demikian, efektivitas implementasi sistem terpadu tersebut akan bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung, integrasi antarinstansi, serta kemampuan fasilitas dalam mengakomodasi peningkatan volume komoditas dari berbagai daerah. Sejumlah indikator tersebut menjadi faktor penting yang akan menentukan sejauh mana Jatim Hub mampu mewujudkan target sebagai gerbang logistik nasional yang lebih efisien dan kompetitif.
(Red-Garudasatunews)














