Strategi SPPG Bondowoso Kelola MBG Rp12 Ribu

oleh -13 Dilihat
oleh
Strategi SPPG Bondowoso Kelola MBG Rp12 Ribu
Salah satu menu berupa daging lele filet dalam MBG yang disajikan oleh SPPG Bondowoso Badean 2. (Istimewa)
banner 468x60

BONDOWOSO, Garudasatunews.id – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Badean 2 Bondowoso mengungkap strategi pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sehingga tetap mampu menyajikan menu bergizi dengan variasi lauk protein hewani, meski anggaran per porsi berkisar Rp10.000 hingga Rp12.000. Kunci keberhasilan disebut bukan terletak pada besarnya anggaran, melainkan pada perencanaan menu, pengendalian biaya, serta pengawasan mutu bahan pangan secara menyeluruh.

Kepala SPPG Bondowoso Badean 2, Yulia Linda Lestari, menjelaskan penyusunan menu dilakukan berdasarkan siklus yang telah dirancang oleh tim, sehingga kebutuhan gizi peserta didik tetap terpenuhi tanpa melampaui alokasi anggaran. Dalam pola tersebut, ayam dan telur disajikan dua hingga tiga kali setiap pekan, filet lele satu kali dalam dua pekan, sedangkan daging sapi disajikan sekitar satu kali dalam sebulan.

Menurut Yulia, anggaran bahan makanan untuk porsi kecil berada di kisaran Rp8.000, sedangkan porsi besar sekitar Rp10.000. Pengaturan komposisi lauk, sayuran, buah, serta sumber karbohidrat dilakukan secara cermat agar keseimbangan protein, vitamin, mineral, dan energi tetap sesuai standar gizi.

“Pengaturan jenis lauk, sayur, dan buah sangat penting untuk memaksimalkan anggaran. Untuk porsi kecil anggaran bahan makanan sekitar Rp8.000, sedangkan porsi besar sekitar Rp10.000,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).

Selain menerapkan siklus menu, SPPG memanfaatkan bahan pangan musiman sebagai langkah efisiensi. Saat pasokan di pasar melimpah, harga bahan baku menjadi lebih rendah sehingga biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas makanan yang disajikan kepada siswa.

Pemilihan bahan pangan juga mempertimbangkan keseimbangan antara kandungan gizi dan nilai ekonomis. Selama memenuhi standar nutrisi yang telah ditetapkan, SPPG memilih bahan dengan harga yang lebih terjangkau agar penggunaan anggaran tetap efektif.

Dalam proses penyusunan menu, ahli gizi memiliki peran penting untuk memastikan variasi makanan tetap terjaga. Strategi tersebut dilakukan agar siswa tidak merasa bosan sekaligus memastikan asupan gizi harian tetap terpenuhi melalui kombinasi menu yang berbeda dari hari ke hari.

Dari sisi pengadaan bahan baku, SPPG turut mengoptimalkan penggunaan hasil pertanian lokal. Sayuran dibeli langsung dari petani di Bondowoso sehingga kualitasnya lebih segar, distribusi lebih singkat, sekaligus membantu efisiensi biaya operasional.

Menjawab anggapan bahwa anggaran Rp10.000 hingga Rp12.000 per porsi dinilai tidak memadai, Yulia menegaskan pengelolaan anggaran yang terencana menjadi faktor utama keberhasilan penyelenggaraan MBG.

“Anggaran itu cukup karena kami telah memikirkan manajemen yang tepat dan tetap memprioritaskan pemenuhan gizi,” tegasnya.

Untuk menjaga kualitas makanan, SPPG menerapkan standar resep dalam setiap proses produksi sehingga cita rasa tetap konsisten meskipun memasak ribuan porsi setiap hari. Pengawasan juga dilakukan terhadap seluruh bahan baku yang diterima. Setiap bahan diperiksa terlebih dahulu di ruang penerimaan, dan apabila tidak memenuhi standar kualitas, bahan tersebut langsung dikembalikan kepada pemasok.

“Kalau bahan baku tidak sesuai standar, kami kembalikan ke supplier,” kata Yulia.

Di tengah tantangan fluktuasi harga bahan pangan, SPPG melakukan penyesuaian melalui modifikasi resep maupun substitusi bahan yang memiliki nilai gizi setara. Langkah tersebut dilakukan agar kualitas nutrisi tetap terjaga tanpa melampaui batas anggaran yang tersedia.

Berdasarkan evaluasi pelaksanaan program, menu chicken katsu dan ayam crispy menjadi pilihan yang paling diminati para siswa karena memiliki cita rasa sederhana serta mudah dikonsumsi.

SPPG Bondowoso Badean 2 berharap masyarakat memahami bahwa pelaksanaan program MBG tidak hanya berfokus pada pembagian makanan, tetapi juga mencakup proses perencanaan menu, pengadaan bahan baku, pengawasan mutu, hingga pengolahan makanan yang mengutamakan standar gizi, keamanan pangan, dan efisiensi anggaran.

” Kami berharap masyarakat bisa lebih memahami bahwa penyediaan MBG bukan sekadar makan, tetapi ada proses panjang di balik penyediaan makanan yang bergizi, aman, dan tetap efisien,” pungkas Yulia. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.