Warga Sememi Bongkar Data Banjir Surabaya

oleh -107 Dilihat
oleh
Warga Sememi Bongkar Data Banjir Surabaya
Tim CeCUR Untag Surabaya melibatkan warga Sememi Kidul dalam pemutakhiran SDMP lewat Pameran Jurnal Kreatif 'Sesudah Hujan'.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Pemutakhiran Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) tak lagi sepenuhnya bertumpu pada hitungan teknis meja perencana. Tim Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melibatkan warga Sememi Kidul, RW 4 Kecamatan Benowo, untuk membedah langsung persoalan banjir yang selama ini berulang tanpa solusi tuntas.

Melalui Pameran Jurnal Kreatif bertajuk ‘Sesudah Hujan’ yang digelar Minggu (1/3/2026), warga diminta memetakan sendiri titik genangan, durasi banjir, hingga dampak sosial-ekonomi yang mereka alami. Data berbasis pengalaman itu kemudian dikumpulkan sebagai bahan koreksi terhadap sistem drainase yang dinilai belum sepenuhnya presisi menjawab kondisi lapangan.

Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya, Dr. Retno Hastijanti, menyatakan pengalaman warga kini menjadi variabel penting dalam penyusunan kebijakan. Pernyataan ini menegaskan adanya kebutuhan pembaruan pendekatan, dari pola top-down menuju perencanaan berbasis realitas faktual di lingkungan terdampak.

Model kerja CeCUR mencakup penggalian cerita banjir dari warga, pemetaan dampak ekonomi rumah tangga, hingga penyajian terbuka hasil temuan. Data tersebut selanjutnya diterjemahkan ke dalam kajian teknis untuk memperbarui SDMP agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika kawasan padat permukiman.

Ketua RW 4 Sememi, Moch Tohir Muchsin, menyebut pelibatan ini mengubah posisi warga dari sekadar penerima proyek menjadi pemberi rekomendasi kebijakan. Partisipasi tersebut dinilai memperkuat legitimasi program sekaligus membuka ruang evaluasi terhadap efektivitas infrastruktur yang sudah dibangun.

Sejumlah warga mengungkapkan bahwa dokumentasi sejarah banjir menjadi sarana edukasi lintas generasi. Catatan kolektif itu tidak hanya merekam kerugian material, tetapi juga memperlihatkan pola berulang genangan yang dapat menjadi indikator kelemahan sistem drainase eksisting.

Pendekatan partisipatif di Sememi kini diproyeksikan sebagai model percontohan untuk wilayah lain di Surabaya. Kolaborasi akademisi dan komunitas ini diharapkan mampu menghasilkan pembaruan kebijakan drainase yang lebih transparan, berbasis bukti lapangan, serta responsif terhadap risiko iklim yang kian meningkat. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.