BALIKPAPAN, Garudasatunews.id – Wildan Abadi memilih cara tak biasa untuk menyambut Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Pengemudi taksi daring sekaligus pengurus Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kota Balikpapan itu mengayuh sepeda onthel dari Balikpapan menuju lokasi Muktamar.
Wildan diberangkatkan dari Kantor PCNU Kota Balikpapan, Minggu (23/8/2026) sore. Ia diperkirakan tiba di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas pada Rabu (26/8/2026) sore. Pelepasan dilakukan Katib PWNU Kalimantan Timur KH Mukhlasin bersama Rais Syuriyah PCNU Kota Balikpapan KH Taufik Syahrul.
Ketua Tanfidziyah PCNU Balikpapan KH Muslih Umar mengapresiasi tekad Wildan. Ia bahkan merekomendasikan agar perjalanan menuju Pelabuhan Semayang mendapat pengawalan Banser. Menurutnya, aksi tersebut juga membawa nama PCNU Balikpapan karena Wildan merupakan pengurus Lesbumi, lembaga yang berada di bawah naungan PCNU Balikpapan.
Perjalanan tersebut tidak dilakukan seorang diri. Wildan didampingi Ferry Yuda, seorang dalang wayang yang aktif di lingkungan pesantren Balikpapan. Selain menghadiri Muktamar, Wildan merencanakan ziarah ke sejumlah tempat bersejarah bagi NU, termasuk makam KH Hasan Gipo, Ketua PBNU periode pertama, serta makam KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang.
Wildan juga berharap dapat bersilaturahmi dengan Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. Harapan itu berkaitan dengan masa lalu Wildan yang pernah bekerja di PT Bama Bumi Sentosa yang dipimpin KH Abdul Hakim Mahfudz.
Pria kelahiran 20 November 1986 tersebut diketahui memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Ia pernah menimba ilmu di Pesantren Al-Basyiriyah Bojonegoro dan Pondok Bustanu Usyaqil Qur’an Kudus. Gagasan mengayuh sepeda menuju Jombang muncul dua hari setelah Tambakberas ditetapkan sebagai lokasi Muktamar.
Keputusan tersebut semakin kuat setelah Katib PWNU Kaltim KH Mukhlasin menyebarkan poster ajakan Lesbumi ngonthel ke Muktamar melalui grup WhatsApp. Wildan langsung menyatakan kesiapannya karena bersepeda memang telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, termasuk untuk bekerja.
Bagi Wildan, perjalanan menggunakan sepeda bukan sekadar persoalan transportasi. Ia memaknainya sebagai simbol kesederhanaan, kebersamaan, keseimbangan, keteguhan, kesabaran dan ketelatenan. Setiap kayuhan dianggap sebagai refleksi proses panjang para pendiri NU dalam membangun organisasi dan berkontribusi bagi bangsa.
Ia mengaku tidak melakukan persiapan khusus karena telah terbiasa bersepeda. Meski demikian, sepeda dan bekal perjalanan telah dipersiapkan sebelum keberangkatan. Perjalanan dari Kalimantan Timur menuju Jawa Timur itu disebutnya sebagai upaya “mengayuh kembali jejak perjuangan”.
Wildan berharap Muktamar NU di Tambakberas mampu menghasilkan arah baru tanpa memutus hubungan dengan akar sejarah dan tradisi organisasi. Ia mendorong NU tetap mampu menjawab tantangan zaman, memperkuat umat, serta tidak meninggalkan masyarakat kecil.
Menurut Wildan, Muktamar bukan semata pergantian kepemimpinan, melainkan momentum menentukan arah perjalanan NU ke depan. Ia berharap forum tersebut mampu memperkuat persatuan, mencerahkan umat, menggerakkan masyarakat, serta melahirkan energi baru untuk merawat kehidupan dan meneruskan perjuangan para pendiri NU.
(Red-Garudasatunews)












