KAI Madiun Kampanye Anti Pelecehan, Efektivitas Dipertanyakan

oleh -28 Dilihat
oleh
KAI Madiun Kampanye Anti Pelecehan, Efektivitas Dipertanyakan
KAI Daop 7 Madiun kolaborasi dengan RF Pecel +63 gelar kampanye anti pelecehan seksual
banner 468x60

MADIUN, Garudasatuunews.id – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 7 Madiun menggandeng komunitas pecinta kereta api RF Pecel +63 dalam kampanye anti pelecehan seksual di lingkungan stasiun dan kereta api. Langkah ini diklaim sebagai upaya menciptakan ruang publik yang aman, meski efektivitasnya dalam menekan kasus di lapangan masih menjadi sorotan.

Kegiatan kampanye yang melibatkan generasi muda tersebut diisi dengan penandatanganan petisi, edukasi langsung kepada penumpang, serta pemasangan banner dan media kampanye berisi imbauan penolakan terhadap kekerasan seksual. Namun, pendekatan berbasis sosialisasi ini dinilai belum menyentuh akar persoalan terkait pengawasan dan penegakan aturan di area transportasi publik.

Manager Humas Daop 7 Madiun, Tohari, menyatakan bahwa kolaborasi ini bertujuan membangun kesadaran kolektif sekaligus mendorong keberanian masyarakat untuk melapor jika mengalami atau menyaksikan tindakan pelecehan seksual.

Pihak KAI menegaskan kebijakan nol toleransi terhadap pelaku pelecehan. Sanksi administratif berupa blacklist hingga larangan menggunakan layanan kereta api disebut akan diterapkan bagi pelanggar yang terbukti.

Meski demikian, belum ada penjelasan rinci terkait mekanisme penanganan laporan, perlindungan korban, maupun transparansi data kasus yang terjadi di lingkungan KAI. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana komitmen tersebut diimplementasikan secara konkret di lapangan.

Sebagai langkah tambahan, KAI juga memperkenalkan fitur Female Seat Map pada aplikasi Access by KAI, yang memungkinkan penumpang perempuan melihat posisi tempat duduk berdasarkan gender di sekitarnya. Fitur ini diharapkan dapat memberikan rasa aman, meskipun dinilai belum cukup untuk mencegah potensi tindakan pelecehan secara menyeluruh.

Upaya kampanye ini mencerminkan peningkatan perhatian terhadap isu kekerasan seksual di ruang publik. Namun, penguatan sistem pengawasan, respons cepat terhadap laporan, serta transparansi penanganan kasus menjadi faktor krusial yang masih perlu dibuktikan dalam implementasinya.

(Red-Garudasatuunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.