JEMBER, Garudasatunews.id – Harapan agar tokoh ulama kharismatik KH Mustofa Bisri atau Gus Mus kembali memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sebagai Rais Aam kembali menguat. Sejumlah kalangan pesantren menilai sosok Gus Mus menjadi figur paling tepat untuk mengembalikan arah perjuangan Nahdlatul Ulama di tengah berbagai dinamika internal organisasi.
Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin Kabupaten Jember, Madini Farouq, menyebut sosok yang layak menjadi Rais Aam PBNU adalah figur yang selama ini justru enggan dicalonkan dan pernah mundur dari bursa pencalonan.
“Sosok yang paling pas menjadi Rais Aam Nahdlatul Ulama untuk menyelamatkan NU adalah orang yang selama ini tidak mau dicalonkan menjadi Rais Aam dan pernah mundur dari pencalonan,” ujar Madini, Sabtu (16/5/2026).
Madini yang juga cucu Rais Aam PBNU periode 1984-1991 KH Achmad Siddiq dan cicit salah satu pendiri NU KH Abdul Wahab Hasbullah menilai Gus Mus merupakan figur bersih yang tidak memiliki kepentingan pribadi di tubuh PBNU.
Menurutnya, selama ini Gus Mus dikenal tidak pernah memanfaatkan kedekatan dengan pejabat maupun menteri untuk kepentingan pribadi, termasuk untuk pembangunan pondok pesantren ataupun kebutuhan pribadi lainnya.
“Rumah beliau sangat sederhana, berada di perkampungan dan semua orang bisa datang bersilaturahim tanpa sekat,” katanya.
Madini juga mengungkapkan sikap keteladanan Gus Mus ketika membantu keponakannya, Yahya Cholil Staquf, saat membangun pondok pesantren. Gus Mus disebut rela mengikhlaskan honor hasil menulis yang dikumpulkannya demi membantu pembangunan tersebut.
“Sosok seperti itu yang dibutuhkan untuk menjadi Rais Aam Nahdlatul Ulama, bukan orang yang masih memiliki kepentingan materi,” ujarnya.
Selain dikenal sederhana, Gus Mus juga dinilai sebagai tokoh egaliter yang dekat dengan masyarakat lintas kalangan. Madini menyebut keseharian Gus Mus jauh dari kesan eksklusif sebagai tokoh agama.
“Kadang beliau memakai celana biasa dan berjalan santai di alun-alun. Beliau juga dikenal sebagai kolumnis, penyair, sastrawan dan budayawan,” katanya.
Madini turut mengingat momen emosional saat Muktamar NU di Jombang, ketika Gus Mus disebut mampu meredakan ketegangan para peserta muktamar melalui pesan moral yang menyejukkan.
“Saya ingat beliau mengatakan bahwa muktamar di Jombang seharusnya mendekatkan kepada para masyayikh pendiri NU, bukan justru menghadirkan pertengkaran. Kalimat itu langsung meredakan emosi para muktamirin,” ungkapnya.
Meski selama ini beberapa kali menolak permintaan menjadi Rais Aam, Madini berharap Gus Mus bersedia menerima amanah demi kepentingan organisasi.
“Sekarang saatnya Gus Mus berkenan menjadi Rais Aam. Bagi beliau, jabatan itu adalah bentuk pengorbanan,” katanya.
Dalam pandangannya, duet Gus Mus sebagai Rais Aam bersama Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf sebagai Ketua Umum PBNU dinilai ideal untuk memimpin organisasi lima tahun ke depan.
“Duet ini diharapkan mampu mengembalikan NU sesuai garis perjuangan para pendirinya,” ujarnya.
Madini juga mengaku tengah menyiapkan langkah silaturahim bersama sejumlah perwakilan keluarga besar zuriah pendiri Nahdlatul Ulama kepada Gus Mus dan Irfan Yusuf guna menyampaikan aspirasi tersebut secara langsung.
“Kondisi NU saat ini menjadi keprihatinan bersama dan harus disuarakan bersama,” katanya.
(Red-Garudasatunews)
















