Warga Lumajang Berebut Hadiah Maulid di Lereng Semeru

oleh -23 Dilihat
oleh
Warga Lumajang Berebut Hadiah Maulid di Lereng Semeru
Warga di Desa Pandansari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, punya cara unik dalam memperingati Maulud Nabi Muhammad Sallallahualayhi Wasalam, Senin (24/8/2026).
banner 468x60

LUMAJANG, Garudasatunews.id – Ratusan warga Desa Pandansari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tradisi unik berupa perebutan makanan, buah-buahan, dan berbagai hadiah yang digantung di Musala Nurul Huda, Senin (24/8/2026). Tradisi turun-temurun tersebut menjadi bagian dari ekspresi syukur sekaligus mempererat kerukunan masyarakat di lereng Gunung Semeru.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan salawat dan doa bersama. Setelah prosesi keagamaan selesai, suasana berubah menjadi meriah ketika warga dari berbagai kalangan berebut aneka makanan, buah, hingga hadiah yang telah disiapkan dan digantung di area musala.

Tradisi tersebut tidak sekadar menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Di balik kerumunan dan antusiasme warga, terdapat pesan sosial mengenai pentingnya menjaga kebersamaan serta membangun hubungan antarwarga melalui kegiatan berbasis tradisi lokal.

Salah seorang warga, Yoga Hasbullah, mengatakan perayaan tersebut selalu menjadi momentum yang dinantikan masyarakat. Menurutnya, seluruh kalangan ikut berpartisipasi karena inti tradisi memang terletak pada proses berebut hadiah setelah rangkaian doa selesai.

Pengurus Musala Nurul Huda, Sholeh Amin, menjelaskan tradisi tersebut telah berlangsung secara turun-temurun. Menurut dia, kegiatan bukan semata-mata memperebutkan barang atau makanan, melainkan menjadi simbol guyub rukun dan sarana memperkuat hubungan sosial masyarakat.

“Tradisi ini bukan sekadar berebut barang fisik. Ini adalah simbol guyub rukun,” ujar Sholeh.

Menariknya, keberadaan gunungan hasil bumi dalam tradisi tersebut juga merepresentasikan karakter masyarakat Pandansari yang memiliki keterkaitan kuat dengan sektor pertanian. Buah dan hasil bumi yang dibagikan menjadi simbol rasa syukur atas kemakmuran yang diperoleh masyarakat.

Dari perspektif pelestarian budaya, tradisi seperti ini memperlihatkan bagaimana perayaan keagamaan dapat berbaur dengan kearifan lokal tanpa menghilangkan substansi kegiatan. Namun, aspek ketertiban dan keselamatan tetap menjadi perhatian ketika tradisi melibatkan kerumunan warga dalam jumlah besar.

Fenomena serupa di sejumlah wilayah Lumajang menunjukkan bahwa tradisi perebutan hasil bumi maupun makanan telah lama menjadi bagian dari ekspresi syukur masyarakat. Dalam konteks budaya lokal, aktivitas tersebut juga kerap dimaknai sebagai simbol keberkahan, gotong royong, dan solidaritas sosial.

Bagi warga Desa Pandansari, peringatan Maulid Nabi akhirnya bukan hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga ruang perjumpaan sosial lintas generasi. Anak-anak, orang dewasa hingga kelompok keluarga turut mengambil bagian dalam tradisi yang terus dipertahankan tersebut.

Di tengah perubahan zaman, keberlangsungan tradisi itu sekaligus menjadi tantangan bagi masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya, nilai keagamaan, ketertiban, dan keselamatan peserta. Dengan pengelolaan yang baik, tradisi lokal dapat tetap hidup tanpa kehilangan makna sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.