MALANG, Garudasatunews.id – Sebanyak 78 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, mengikuti workshop pencegahan bullying melalui pendekatan immersive storytelling berbasis teknologi virtual reality (VR) dan augmented reality (AR). Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat implementasi Sekolah Ramah Anak sekaligus meningkatkan kompetensi pendidik dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.
Workshop yang berlangsung selama dua hari, 27–28 Juli 2026, di Aula PSBB MAN 2 Kota Malang tersebut merupakan kolaborasi Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bersama Universitas Negeri Malang (UM). Seluruh peserta berasal dari guru PAUD yang tergabung dalam PKG PAUD Kecamatan Kedungkandang.
Kegiatan ini memadukan penguatan pemahaman mengenai pencegahan perundungan dengan pemanfaatan teknologi pembelajaran berbasis AR dan VR. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu guru menyampaikan nilai empati, kepedulian, serta penghormatan terhadap sesama secara lebih interaktif kepada anak usia dini.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Monica Widyaswari, M.Pd., menegaskan guru memiliki peran strategis dalam membangun budaya sekolah yang melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun perundungan.
Menurutnya, Sekolah Ramah Anak tidak hanya diukur dari kelengkapan fasilitas, tetapi juga dari kemampuan seluruh unsur pendidikan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak. Karena itu, peningkatan kapasitas guru menjadi langkah penting agar mampu mengenali sekaligus mencegah praktik bullying sejak dini.
Pada hari pertama, materi disampaikan Wuri Astuti, M.Pd., dosen Departemen Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Malang. Ia menjelaskan konsep bullying pada anak usia dini, bentuk-bentuk perundungan, perbedaan bullying dengan konflik biasa, hingga strategi pencegahannya.
Wuri menekankan bahwa guru harus memahami karakteristik bullying secara tepat agar tidak keliru memberikan penilaian terhadap perilaku anak. Menurutnya, tidak setiap perselisihan antaranak dapat dikategorikan sebagai perundungan karena bullying memiliki unsur kesengajaan, terjadi berulang, serta terdapat ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban.
Melalui diskusi dan analisis berbagai kasus, peserta diajak mengidentifikasi perilaku yang berpotensi mengarah pada bullying, seperti mengejek, mengucilkan, mengintimidasi, merebut barang milik teman, hingga tindakan fisik. Guru juga didorong membangun komunikasi positif serta menanamkan empati sebagai bagian dari upaya pencegahan sejak usia dini.
Pada hari kedua, peserta memperoleh pelatihan pemanfaatan teknologi AR dan VR sebagai media pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif. Materi disampaikan Wahyu Pratama Putra, M.Pd., yang menjelaskan bahwa teknologi tersebut dapat menjadi sarana efektif untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih konkret tanpa mengesampingkan peran guru.
Selain mendapatkan teori, para peserta juga mempraktikkan pembuatan media AR serta mencoba video pembelajaran menggunakan kacamata VR. Materi yang disajikan berfokus pada penguatan nilai empati, kepedulian, saling menghargai, keberanian membantu teman, serta kemampuan mengenali perilaku yang tidak aman di lingkungan sekolah.
Wahyu menegaskan penggunaan teknologi harus disesuaikan dengan usia dan karakteristik perkembangan anak. Setelah penggunaan media AR maupun VR, guru tetap perlu mendampingi anak melalui diskusi agar mereka mampu memahami nilai moral dan perilaku positif yang ingin ditanamkan.
Antusiasme peserta terlihat selama sesi praktik berlangsung. Para guru aktif mencoba perangkat VR secara bergantian sekaligus berdiskusi mengenai peluang penerapan media pembelajaran berbasis teknologi tersebut di lembaga PAUD masing-masing.
Salah seorang peserta mengaku pelatihan AR dan VR menjadi pengalaman baru yang membuka wawasan mengenai inovasi pembelajaran. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan sekaligus dibagikan kepada tenaga pendidik lain agar manfaatnya semakin luas.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNESA dan UM menyerahkan perangkat kacamata VR kepada PKG PAUD Kecamatan Kedungkandang. Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara bersama oleh seluruh lembaga PAUD yang tergabung dalam PKG guna mendukung pembelajaran berbasis teknologi.
Kepala PKG PAUD Kecamatan Kedungkandang, Rini Wardiana, S.Pd., mengapresiasi kolaborasi kedua perguruan tinggi tersebut. Ia berharap pendampingan, peningkatan kompetensi guru, serta pemanfaatan perangkat VR dapat memperkuat implementasi Sekolah Ramah Anak sekaligus mendukung pembelajaran yang lebih inovatif, aman, dan menyenangkan bagi peserta didik.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga PAUD ini menjadi salah satu langkah konkret dalam memperkuat kapasitas guru menghadapi tantangan pendidikan di era digital. Selain meningkatkan literasi teknologi pendidik, program tersebut juga mendukung upaya pencegahan bullying sejak usia dini melalui pendekatan pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada perlindungan hak-hak anak.
(Red-Garudasatunews)













