Target Gula Tinggi, Beban Petani Tebu Menguat

oleh -43 Dilihat
oleh
Target Gula Tinggi, Beban Petani Tebu Menguat
Suasana hangat terasa di PG Ngadiredjo Kediri saat ratusan petani tebu berkumpul dalam Forum Temu Kemitraan (FTK)
banner 468x60

KEDIRI, Garudasatunews.id – Menjelang musim giling 2026, PG Ngadiredjo menggelar Forum Temu Kemitraan (FTK) yang mempertemukan ratusan petani tebu dengan sejumlah pemangku kepentingan. Di balik upaya menyatukan kolaborasi, muncul sorotan atas beban produksi petani yang terus meningkat di tengah ambisi target gula yang tinggi.

Forum ini dihadiri petani mitra, perwakilan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri dan Blitar, pihak Petrokimia Gresik, serta mitra perbankan. Pertemuan tersebut difokuskan untuk memastikan kesiapan menghadapi musim giling yang ditargetkan berjalan optimal.

General Manager PG Ngadiredjo, Wayan Mei Purwono, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mencapai target produksi. Ia menyebut sinergi antara pabrik, petani, industri pupuk, dan perbankan sebagai satu ekosistem yang tidak bisa dipisahkan.

PG Ngadiredjo menetapkan target menggiling 11 juta kuintal tebu dengan rendemen 7,5 persen, serta produksi gula mencapai 82.500 ton. Target ini dinilai ambisius, namun belum diimbangi dengan jaminan konkret atas stabilitas biaya produksi di tingkat petani.

Rencana awal musim giling dijadwalkan dimulai pada 9 Mei 2026. Sejumlah persiapan disebut terus dimatangkan, meski tekanan di lapangan justru dirasakan oleh petani sebagai pihak yang menanggung sebagian besar risiko produksi.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) PG Ngadiredjo, H. Mujianto, mengungkapkan forum ini menjadi ruang penting untuk menyampaikan persoalan riil yang dihadapi petani. Ia menyoroti kenaikan biaya operasional mulai dari tebang, muat, hingga angkut yang secara langsung menggerus margin keuntungan.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa target produksi tinggi justru berpotensi membebani petani jika tidak diimbangi kebijakan pendukung yang berpihak. Meski demikian, peran perbankan diakui membantu menjaga kelancaran operasional petani, khususnya dalam pembiayaan awal musim tanam hingga distribusi.

Situasi ini menunjukkan adanya ketimpangan antara target industri dan kondisi riil di lapangan. Tanpa intervensi konkret terhadap biaya produksi dan harga jual, kesejahteraan petani berisiko tidak sejalan dengan capaian produksi yang ditargetkan pabrik.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.