Sleep Apnea Picu Stroke, Ancaman Kesehatan Terabaikan

oleh -41 Dilihat
oleh
Sleep Apnea Picu Stroke, Ancaman Kesehatan Terabaikan
peluncuran National Dream & Sleep Center di Nasional Hospital Surabaya, Rabu (15/4/2026).
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Gangguan tidur seperti sleep apnea kembali menjadi sorotan serius setelah dokter spesialis paru Ignatius Hanny Handoko Tanuwijaya mengungkap risiko laten yang kerap diabaikan publik. Kondisi ini disebut dapat memicu stroke hingga penyakit jantung jika tidak ditangani dalam jangka panjang.

Dalam pemaparan di peluncuran National Dream & Sleep Center di Nasional Hospital Surabaya, Rabu (15/4/2026), Hanny menyebut sekitar 75 persen kasus sleep apnea yang tidak diobati selama 10 hingga 15 tahun berpotensi berujung stroke. Risiko penyakit jantung koroner juga meningkat signifikan, menunjukkan adanya ancaman sistemik yang belum banyak disadari masyarakat.

Gangguan tidur ini berkaitan langsung dengan suplai oksigen ke organ vital. Penurunan kadar oksigen saat tidur dinilai mampu mengganggu aliran darah ke otak dan jantung, yang dalam jangka panjang meningkatkan potensi komplikasi serius. Ironisnya, kondisi ini sering luput dari deteksi dini meski memiliki gejala yang relatif mudah dikenali.

Gejala seperti dengkuran keras, henti napas saat tidur, serta kelelahan berlebih di siang hari disebut sebagai indikator awal yang kerap diabaikan. Minimnya kesadaran dan pemeriksaan dini menjadi faktor utama keterlambatan penanganan.

Tak hanya berdampak pada organ vital, gangguan tidur juga memicu gangguan metabolisme. Penderita berisiko mengalami peningkatan nafsu makan yang berujung obesitas, serta penurunan produktivitas yang berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan.

Direktur Nasional Hospital, Hendera Henderi, menegaskan penanganan gangguan tidur tidak bisa dilakukan secara parsial. Pendekatan multidisiplin dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan diagnosis yang akurat dan terapi yang tepat sasaran.

Ia menyebut keterlibatan dokter lintas spesialis, termasuk jantung, menjadi langkah strategis dalam mengidentifikasi akar masalah gangguan tidur pasien. Tanpa diagnosis komprehensif, penanganan berpotensi tidak efektif dan hanya bersifat sementara.

Sementara itu, dokter spesialis saraf Neimy Novitasari menekankan bahwa kebutuhan tidur setiap individu berbeda. Ia mengingatkan bahwa kurang tidur tidak dapat dipulihkan secara instan, melainkan membutuhkan waktu hingga dua sampai tiga hari untuk kembali normal.

Pemanfaatan teknologi sederhana seperti perangkat pemantau tidur dinilai dapat menjadi langkah awal dalam mendeteksi gangguan secara mandiri. Namun, tanpa edukasi yang memadai, potensi deteksi dini ini dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.

Tenaga medis menegaskan kualitas tidur bukan sekadar durasi, melainkan faktor krusial dalam menjaga fungsi tubuh secara menyeluruh. Minimnya perhatian terhadap kualitas tidur berpotensi memperbesar beban penyakit kronis di masa depan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.