SURABAYA, Garudasatunews.id – Persoalan pencemaran mikroplastik di Kali Tebu, Surabaya, dikenalkan secara langsung kepada siswa melalui Microplastic Mobile Laboratory (MIMO). Laboratorium bergerak tersebut membawa kegiatan penelitian sederhana ke lingkungan sekolah agar pelajar dapat memahami pencemaran plastik berdasarkan sampel dari lingkungan sekitar.
Kegiatan edukasi yang berlangsung di kawasan Kali Tebu itu melibatkan siswa sekolah dasar. Mereka tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai mikroplastik, tetapi juga diajak mengambil sampel air dan daun untuk kemudian diamati menggunakan mikroskop.
Bagi siswa, metode tersebut membuat persoalan pencemaran yang selama ini sulit dilihat secara kasatmata menjadi lebih konkret. Mereka dapat mengikuti proses pengambilan sampel hingga pengamatan menggunakan peralatan laboratorium.
MIMO yang dikembangkan untuk mendekatkan edukasi mikroplastik kepada masyarakat menjadi sarana pembelajaran lingkungan di luar ruang kelas. Pendekatan ini sekaligus memperkenalkan cara sederhana kepada anak-anak untuk memahami bahwa pencemaran dapat diteliti melalui bukti yang ditemukan di lingkungan sekitar.
Salah seorang siswa, Gibran, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena mendapatkan pengalaman baru menggunakan mikroskop. Kegiatan itu membuat pembelajaran lingkungan tidak sebatas teori, tetapi dilengkapi praktik langsung.
Siswa lainnya juga mulai menghubungkan persoalan mikroplastik dengan kebiasaan penggunaan plastik sehari-hari. Mereka didorong mengurangi plastik sekali pakai, menggunakan tempat minum dan tempat makan sendiri, serta tidak membuang sampah ke sungai.
Temuan mengenai mikroplastik di Kali Tebu sebelumnya juga menunjukkan persoalan pencemaran yang tidak selalu terlihat secara kasatmata. Dalam penelitian yang melibatkan siswa SMPN 58 Surabaya pada Mei 2026, pengujian terhadap 10 liter sampel air Kali Tebu menemukan 19 partikel mikroplastik yang terdiri dari fiber, filamen, dan fragmen. Partikel juga ditemukan pada sampel air keran, udara, serta daun di sekitar sekolah.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Kali Tebu bukan hanya berkaitan dengan sampah berukuran besar yang terlihat di permukaan. Sampah plastik yang terfragmentasi menjadi partikel berukuran sangat kecil dapat menjadi bagian dari persoalan pencemaran lingkungan yang membutuhkan pengurangan dari sumbernya.
Karena itu, edukasi kepada pelajar diarahkan tidak berhenti pada pengenalan mikroplastik. Perubahan perilaku, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa wadah guna ulang dan menjaga kebersihan sungai, menjadi bagian penting dalam upaya menekan kebocoran sampah plastik ke lingkungan.
Persoalan ini juga menempatkan pengelolaan sampah dan perlindungan sungai sebagai tanggung jawab bersama. Pembersihan sungai diperlukan, tetapi tanpa pengurangan sampah dari sumbernya, beban pencemaran berpotensi terus berulang. Pada Juni 2026, kegiatan pembersihan Kali Tebu bahkan mengangkat sekitar 16 ton sampah yang didominasi kemasan makanan-minuman plastik, sachet, botol plastik dan styrofoam.
Melalui MIMO, siswa diperkenalkan pada pesan bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Penggunaan plastik secara bijak dan menjaga sungai sejak usia sekolah diharapkan menjadi bagian dari perubahan perilaku untuk mencegah pencemaran yang semakin sulit terlihat tetapi berpotensi meluas.
(Red-Garudasatunews)











