Siswa Sekolah Rakyat Tembus Panggung FNRP

oleh -31 Dilihat
oleh
Siswa Sekolah Rakyat Tembus Panggung FNRP
Tampilan Garudo Djoyo Manggolo, grup reog dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo dalam FNRP XXXI.
banner 468x60

PONOROGO, Garudasatunews.id – Puluhan siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 5 Ponorogo mencatatkan sejarah baru dengan tampil di panggung utama Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI, Sabtu (13/6/2026) malam. Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa akses terhadap pendidikan dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan, bahkan bagi siswa yang sebelumnya hanya mengenal reog sebagai tontonan dari kejauhan.

Bergabung dalam Grup Reog Garudo Djoyo Manggolo, para siswa tampil di hadapan ribuan penonton di Alun-alun Ponorogo. Sebagian besar peserta diketahui bukan berasal dari keluarga pelaku seni reog dan belum pernah terlibat langsung dalam pertunjukan berskala besar sebelumnya.

Salah satu penampil, Trihandika (17), siswa kelas 1 SMA SR Terintegrasi 5 Ponorogo, dipercaya memerankan tokoh warok. Kesempatan tampil dalam ajang nasional yang memperebutkan Piala Presiden Republik Indonesia itu diakuinya sebagai pengalaman pertama yang penuh tantangan.

Menurut Trihandika, proses latihan tidak berlangsung mudah. Materi dan gerakan dasar reog harus dipelajari dari nol. Namun melalui latihan intensif yang dilakukan selama berbulan-bulan, kemampuan para siswa perlahan berkembang hingga dinilai layak tampil dalam festival nasional.

“Awal-awal masih sulit memahami materi dan gerakan-gerakannya. Lambat laun terbiasa dan bisa mengikuti,” ujarnya.

Menjelang hari pertunjukan, para siswa menjalani latihan secara rutin. Selain mengikuti jadwal resmi, sebagian peserta juga berlatih mandiri untuk meningkatkan penguasaan gerakan dan membangun kepercayaan diri saat tampil di atas panggung.

Hal serupa dirasakan Aulia Putri, siswi kelas 1 SMA SR Terintegrasi 5 Ponorogo yang berperan sebagai penari jathilan. Ia mengaku kesempatan tampil di panggung utama FNRP merupakan pencapaian yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Sejak kecil, Aulia hanya menjadi penonton pertunjukan reog yang digelar di berbagai kegiatan masyarakat. Kini, melalui Sekolah Rakyat, ia mendapat kesempatan menjadi bagian langsung dari salah satu warisan budaya yang menjadi identitas Kabupaten Ponorogo.

“Tampil di panggung FNRP ini seperti impian yang menjadi kenyataan. Dulu saya hanya melihat anak-anak seusia saya menari jathilan di grup reog,” katanya.

Selain menjadi ruang ekspresi seni, keterlibatan siswa dalam reog dinilai memiliki nilai strategis dalam upaya regenerasi pelestari budaya daerah. Para siswa tidak hanya mempelajari teknik tari dan peran tokoh dalam pertunjukan, tetapi juga memahami sejarah serta filosofi yang terkandung dalam kesenian reog.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo, Devit Tri Candrawati, mengatakan pembentukan Grup Reog Garudo Djoyo Manggolo berangkat dari komitmen sekolah untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dan pelestarian budaya dalam proses pembelajaran.

Menurutnya, pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus membangun kesadaran generasi muda terhadap identitas budaya daerah.

“Munculnya ide membentuk grup reog di Sekolah Rakyat ini terinspirasi dari pentingnya kebudayaan sebagai fondasi bangsa. Karena itu kami ingin anak-anak memahami dan mencintai budaya daerahnya sendiri,” ujarnya.

Devit menjelaskan, program pembentukan grup reog mulai dirancang sejak Oktober 2025 dan secara resmi digagas pada Februari 2026. Selama kurang lebih lima bulan, para siswa mendapatkan pembinaan intensif mulai dari pengenalan sejarah reog, karakter tokoh, teknik dasar tari hingga pemahaman nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Ia menegaskan bahwa siswa Sekolah Rakyat harus memperoleh kesempatan yang setara dengan siswa sekolah reguler, termasuk dalam mengakses kegiatan seni dan budaya tingkat nasional.

“Anak-anak berhak merasakan pengalaman yang sama seperti siswa lainnya. Mereka memiliki potensi yang harus diberi ruang untuk berkembang,” tegasnya.

Pelatih Grup Reog Garudo Djoyo Manggolo, Wisnu HP, menilai keberhasilan para siswa tampil di FNRP menjadi indikator bahwa pembinaan yang konsisten mampu meningkatkan kemampuan sekaligus kepercayaan diri peserta didik.

Menurut Wisnu, mayoritas siswa memulai latihan dari titik nol. Namun semangat belajar yang tinggi menjadi faktor utama yang mendorong perkembangan mereka hingga mampu tampil dalam ajang bergengsi tingkat nasional.

Pada FNRP XXXI, Grup Reog Garudo Djoyo Manggolo memperoleh nomor urut 20 dan tampil sebagai penampil keempat pada Sabtu malam. Kehadiran mereka di panggung utama tidak hanya menjadi pertunjukan seni semata, tetapi juga menunjukkan bahwa akses pendidikan dan kesempatan yang setara dapat membuka ruang bagi lahirnya generasi baru pelestari budaya Ponorogo.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.