KEDIRI, Garudasatunews.id – PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) mulai melakukan tebang tebu varietas unggul SGN 01 Tahun Giling (TG) 2025/2026 di Kediri, Jawa Timur. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan dan swasembada gula nasional.
SGN memproyeksikan varietas SGN 01 mampu menghasilkan produktivitas hingga 125 ton tebu per hektare dengan asumsi rendemen 9,5 persen. Dari angka tersebut, potensi produksi gula diperkirakan mencapai 11,9 ton per hektare.
Direktur Utama PT SGN Mahmudi menyebut pelaksanaan tebang perdana SGN 01 merupakan bagian dari strategi perusahaan meningkatkan produktivitas perkebunan melalui penerapan budi daya, pengembangan bibit unggul, dukungan teknologi, serta penguatan kemitraan dengan petani.
“Pelaksanaan tebang Tebu SGN 01 menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus memperkuat kolaborasi dengan petani,” ujar Mahmudi dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).
Dari sisi ekonomi, SGN memperkirakan budidaya SGN 01 berpotensi memberikan pendapatan sekitar Rp140 juta per hektare. Dengan estimasi biaya produksi Rp85 juta per hektare, perusahaan memproyeksikan keuntungan bersih sekitar Rp55 juta per hektare. Angka tersebut merupakan proyeksi berdasarkan asumsi produksi dan biaya yang disampaikan SGN, sehingga realisasi di tingkat petani tetap bergantung pada produktivitas, rendemen, biaya usaha tani, serta kondisi pasar.
Pengembangan SGN 01 juga menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan varietas unggul di perkebunan tebu yang bermitra dengan perusahaan. SGN menyatakan bibit varietas tersebut akan dikembangkan dan didistribusikan lebih luas untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan memperkuat ekosistem industri gula.
Secara historis, SGN 01 dikembangkan dari klon JSR 13-2161 yang diusulkan PT SGN melalui KSO Kebun Dhoho. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat SGN 01 sebagai salah satu varietas unggul yang diarahkan menjadi alternatif varietas masak tengah-lambat dengan potensi produktivitas tinggi.
Tantangan berikutnya bukan sekadar memastikan SGN 01 mampu mencapai angka proyeksi di lahan, tetapi bagaimana produktivitas tersebut dapat dipertahankan ketika diterapkan lebih luas. Efisiensi biaya, kualitas benih, teknik budi daya, rendemen aktual, serta kepastian manfaat ekonomi bagi petani menjadi sejumlah indikator yang akan menentukan keberhasilan program.
Dengan demikian, tebang perdana di Kediri menjadi tahap awal untuk menguji capaian varietas SGN 01 pada skala produksi. Jika target produktivitas dan rendemen dapat terealisasi secara konsisten, pengembangan varietas tersebut berpotensi memperkuat pasokan bahan baku industri gula sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kemitraan petani.
(Red-Garudasatunews)
















