JAKARTA, Garudasatunews.id – Kementerian Sosial (Kemensos) menyiapkan jalur pengembangan keterampilan bagi siswa Sekolah Rakyat yang setelah lulus SMA memilih langsung memasuki dunia kerja. Skema tersebut diarahkan agar lulusan memiliki kompetensi sesuai minat, bakat, dan potensi masing-masing, bukan sekadar mengantongi ijazah.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan rencana itu saat makan malam bersama 409 siswa Sekolah Rakyat DKI Jakarta di Margaguna, Jakarta Selatan, Minggu (6/9/2026). Para siswa tersebut terdiri atas jenjang SD, SMP, dan SMA.
Menurut Gus Ipul, masa depan siswa Sekolah Rakyat disiapkan melalui jalur pendidikan berjenjang. Siswa yang memiliki kemampuan akademik dan memenuhi persyaratan dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan dukungan beasiswa.
Sementara siswa yang memilih memasuki dunia kerja akan diarahkan mengikuti pelatihan keterampilan yang disesuaikan dengan minat dan potensinya.
“Kalau menjadi pekerja terampil, maka harus mengikuti pelatihan-pelatihan sesuai dengan minat dan paketnya,” ujar Gus Ipul.
Untuk mematangkan konsep tersebut, Gus Ipul mengajak Pungky Sumadi, mantan Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas, membantu penyusunan serta pengembangan kurikulum keterampilan.
Langkah itu menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memastikan lulusan Sekolah Rakyat memiliki pilihan masa depan yang lebih jelas. Sebelumnya, Kemensos juga telah menyiapkan dua jalur bagi lulusan, yakni pendidikan tinggi atau pelatihan vokasi untuk memasuki dunia kerja.
Persoalan utama yang kini perlu diuji bukan sekadar keberadaan program pelatihan, melainkan sejauh mana keterampilan yang diberikan benar-benar terhubung dengan kebutuhan industri dan lapangan kerja. Kurikulum, sertifikasi kompetensi, kualitas instruktur hingga akses penempatan kerja menjadi faktor yang akan menentukan efektivitas program.
Kisah Linggar Ardiansyah, 17, salah satu siswa Sekolah Rakyat, menggambarkan pentingnya jalur tersebut. Linggar sempat berhenti sekolah selama dua tahun dan menjalani berbagai pekerjaan, antara lain sebagai tukang sapu, penjaga toilet, dan kernet angkutan kota.
Setelah kembali bersekolah, Linggar mengembangkan ketertarikannya pada matematika dan keterampilan tata boga. Ia mengaku memiliki hobi memasak.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa pendidikan bagi siswa Sekolah Rakyat tidak hanya berkaitan dengan pemulihan akses belajar, tetapi juga bagaimana potensi anak dipetakan dan dikembangkan menjadi kemampuan nyata.
Pemerintah sebelumnya menyatakan pemetaan minat dan bakat dilakukan untuk membantu menentukan pilihan pendidikan maupun karier siswa. Karena itu, keberhasilan Sekolah Rakyat pada akhirnya tidak cukup diukur dari jumlah siswa yang diterima atau lulus, tetapi dari kemampuan program memastikan setiap anak memperoleh jalur masa depan yang sesuai tanpa kehilangan hak untuk memilih dan berkembang.
Bagi siswa yang memilih kuliah, akses beasiswa dan pendampingan pendidikan menjadi bagian penting. Sedangkan bagi mereka yang memilih bekerja, pelatihan vokasi harus mampu menghasilkan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja.
Dengan demikian, Sekolah Rakyat dituntut tidak berhenti sebagai program pendidikan bagi kelompok masyarakat kurang mampu. Program ini harus mampu menjadi jembatan nyata menuju pendidikan tinggi, pekerjaan layak, maupun pengembangan keterampilan sesuai potensi setiap siswa.
(Red-Garudasatunews)










