Ritual Mojotirto Disorot, Nilai Budaya atau Seremonial?

oleh -30 Dilihat
oleh
Ritual Mojotirto Disorot, Nilai Budaya atau Seremonial
Wawali Kota Mojokerto, Rachman Sidharta saat menghadiri prosesi Umbul Dungo di Pendapa Sabha Mandala Tama. [Foto : ist]
banner 468x60

MOJOKERTO, Garudasatunews.id – Pembukaan Mojotirto Festival 2026 di Pendapa Sabha Mandala Tama, Jumat (17/4/2026), diwarnai prosesi ritual Umbul Dungo yang sarat nuansa sakral. Meski diklaim sebagai pelestarian budaya, muncul pertanyaan mengenai substansi dan dampak nyata kegiatan terhadap pengembangan pariwisata daerah.

Prosesi Umbul Dungo menjadi agenda utama pembuka festival dengan menghadirkan ritual penyatuan air dari tujuh sumber mata air yang diyakini berasal dari kawasan Majapahit, serta kiriman air dari berbagai daerah di Jawa Timur. Air tersebut diposisikan sebagai simbol persatuan lintas wilayah, namun belum ada indikator konkret yang menunjukkan kontribusi langsung terhadap sektor pariwisata maupun ekonomi lokal.

Ritual ini juga diwarnai doa lintas agama yang menggambarkan keberagaman dan toleransi. Namun, pendekatan simbolik tersebut dinilai masih bersifat seremonial tanpa diikuti program lanjutan yang terukur dalam memperkuat nilai sosial di masyarakat.

Kehadiran elemen budaya seperti buceng kuat dan tabur bunga disebut sebagai representasi filosofi keteguhan dan penolak bala. Meski memiliki nilai tradisional, implementasi makna tersebut dalam konteks pembangunan daerah masih belum dijelaskan secara konkret.

Wakil Wali Kota Mojokerto, Rachman Sidharta Arisandi, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi antar daerah melalui keterlibatan duta wisata. Ia menyebut kegiatan ini sebagai strategi memperkuat promosi pariwisata berbasis jejaring.

Namun, efektivitas strategi tersebut belum disertai data capaian atau proyeksi dampak terhadap peningkatan kunjungan wisata. Keterlibatan duta wisata dinilai masih sebatas simbol representasi tanpa mekanisme promosi yang terstruktur dan berkelanjutan.

Rangkaian acara festival akan berlanjut dengan prosesi Larung Tirta Amerta di Sungai Ngotok serta Kejuaraan Provinsi Dayung. Agenda ini diharapkan mampu mendorong sektor pariwisata dan ekonomi lokal, meski realisasi dampaknya masih perlu diuji melalui indikator yang terukur.

Dengan dominasi pendekatan simbolik dan seremoni budaya, Mojotirto Festival 2026 menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.