PG Pradjekan Giling 528 Ribu Ton Tebu, Produksi Gula Lampaui Target 113 Persen

oleh -35 Dilihat
oleh
banner 468x60

BONDOWOSO, Garudasatunews.id – Pabrik Gula (PG) Pradjekan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mencatatkan kinerja positif pada musim giling 2026. Pabrik gula tersebut berhasil menggiling sebanyak 528.733 ton tebu atau mencapai 110 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sebesar 479.915 ton.

Capaian tersebut turut mendongkrak produksi gula hingga 43.249 ton atau 113 persen dari target yang ditetapkan sebesar 38.435 ton. Hasil ini menunjukkan peningkatan kinerja produksi PG Pradjekan di tengah tantangan cuaca dan kondisi perkebunan tebu selama musim giling tahun ini.

General Manager PG Pradjekan, Chandra S. Widjaja, mengatakan peningkatan jumlah tebu yang digiling tidak terlepas dari penguatan pola kemitraan dengan petani serta investasi peralatan pabrik yang dinilai tepat guna.

Menurutnya, jumlah tebu yang berhasil diolah pada musim giling 2026 meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada 2025, PG Pradjekan menggiling 519.252 ton tebu, sedangkan pada 2024 tercatat sebanyak 459.269 ton.

Tren tersebut memperlihatkan peningkatan volume pengolahan bahan baku selama tiga musim giling terakhir. Namun, capaian produksi juga membutuhkan kesinambungan pasokan tebu berkualitas serta pengelolaan perkebunan yang mampu menghadapi perubahan kondisi iklim.

El Nino dan Kebakaran Tebu Jadi Tantangan

Di balik keberhasilan melampaui target, musim giling 2026 tidak sepenuhnya berjalan tanpa hambatan. Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang berdampak terhadap kebakaran tanaman tebu di sejumlah wilayah Bondowoso.

Kondisi tersebut turut memengaruhi taksasi atau perkiraan produksi tebu. Situasi ini menjadi perhatian karena gangguan terhadap tanaman di tingkat perkebunan berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan baku bagi operasional pabrik gula.

Chandra menyebut pengawasan keamanan lahan dan perbaikan sistem pengairan perlu diperkuat untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang. Koordinasi antara pengelola pabrik, petani, dan pemerintah juga diperlukan agar produktivitas tanaman tetap terjaga.

Perluasan Lahan dan Pembinaan Petani Diperkuat

Untuk meningkatkan kapasitas produksi, PG Pradjekan mendorong intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan melalui program bongkar ratoon serta perluasan areal tanam seluas 1.700 hektare.

Strategi tersebut dibarengi penataan varietas tebu, pengaturan bulan tanam, serta pembinaan petani secara berkelanjutan. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memperbaiki kualitas bahan baku yang masuk ke pabrik.

Chandra menjelaskan, target minimal produksi hablur atau gula kristal ditetapkan sebesar delapan ton per hektare. Untuk mencapainya, diperlukan pengawasan bersama antara pihak pabrik dan petani melalui program pembinaan LAKU Kebun.

Peningkatan produktivitas tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi PG Pradjekan dalam mendukung agenda swasembada gula nasional.

Petani Harapkan Harga Gula dan Tetes Tetap Menguntungkan

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Pradjekan, Rolis Wikarsono, menilai musim giling 2026 memberikan sejumlah keuntungan bagi petani.

Menurutnya, kebijakan pemerintah yang tidak melakukan impor gula pada tahun ini turut membantu menjaga harga gula. Pelaksanaan lelang gula juga dinilai berjalan baik, sementara pembayaran hasil penjualan gula kepada petani dapat dilakukan setiap minggu.

Selain harga gula, harga tetes tebu atau molase juga mengalami perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata harga tetes pada 2026 mencapai Rp1.989 per kilogram.

Dari sisi operasional, pelaksanaan tebang, muat, dan angkut (TMA) juga dinilai semakin baik. Rolis menyebut seluruh tebu yang tersedia berhasil ditebang sehingga tidak ada tebu petani yang tertinggal di lahan.

Ke depan, APTRI berharap dukungan terhadap petani terus ditingkatkan, terutama melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), pendampingan kebun bersama PG melalui program LAKU Kebun, serta upaya menjaga harga gula dan tetes agar tetap menguntungkan.

Keberhasilan PG Pradjekan melampaui target produksi menjadi capaian positif bagi industri gula di Bondowoso. Namun, keberlanjutan kinerja tersebut tetap membutuhkan kepastian kemitraan, peningkatan produktivitas lahan, perlindungan tanaman dari risiko iklim, serta keseimbangan manfaat ekonomi antara perusahaan dan petani tebu.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.