Samator Indo Gas Catat Lonjakan Laba Bersih 79 Persen

oleh -12 Dilihat
oleh
Samator Indo Gas Catat Lonjakan Laba Bersih 79 Persen
Samator Indo Gas Catat Lonjakan Laba Bersih 79 Persen
banner 468x60

JAKARTA, Garudasatunews.id – PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), emiten gas industri dan medis, mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 79 persen menjadi Rp114,3 miliar selama Januari–September 2026. Pencapaian tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp63,9 miliar, didukung pertumbuhan pendapatan, efisiensi operasional, serta penguatan margin keuntungan.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian untuk periode yang berakhir pada 30 September 2026, pendapatan perseroan mencapai Rp2,38 triliun, tumbuh 7,5 persen dibandingkan Rp2,21 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Kinerja tersebut menunjukkan peningkatan profitabilitas yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Pengendalian biaya produksi dan optimalisasi operasional menjadi faktor penting yang mendorong peningkatan keuntungan perusahaan.

Efisiensi Produksi Perkuat Margin Keuntungan

Samator mencatatkan kenaikan laba kotor sebesar 11,2 persen menjadi Rp1,13 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba kotor perseroan tercatat sekitar Rp1,02 triliun.

Margin laba kotor juga meningkat dari 46 persen menjadi 47,6 persen. Penguatan tersebut ditopang pengendalian biaya produksi, terutama biaya listrik dan tenaga kerja per unit, serta penerapan efisiensi di fasilitas operasional.

Beban pokok penjualan tercatat meningkat 4,34 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Sementara itu, beban usaha naik 8,4 persen secara tahunan di tengah peningkatan aktivitas penjualan dan distribusi.

Dari sisi kinerja operasional, EBITDA atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi tercatat Rp709,4 miliar, meningkat 10,7 persen dibandingkan Rp640,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Margin EBITDA mencapai 29,9 persen.

Teknologi dan Permintaan Industri Jadi Penopang

Pertumbuhan bisnis Samator didukung peningkatan volume penjualan di sejumlah pasar utama serta penerapan teknologi untuk menjawab kebutuhan pelanggan industri.

Salah satu inovasi yang diterapkan ialah teknologi oxyfuel burner bagi industri kaca dan keramik yang menghadapi keterbatasan pasokan gas alam. Perseroan juga menyediakan dry ice kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mendukung upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Direktur Utama Samator Indo Gas, Rachmat Harsono, menyatakan bahwa kinerja sembilan bulan pertama 2026 mencerminkan ketahanan fundamental bisnis perusahaan.

Menurutnya, pertumbuhan laba kotor dan EBITDA, disertai kenaikan laba bersih, menunjukkan upaya perusahaan memperkuat kinerja operasional secara konsisten.

Samator juga mempertahankan pasokan gas untuk sektor kesehatan dan berbagai industri strategis, termasuk manufaktur, pengolahan logam, dan elektronik.

Beban Keuangan Turun, Rasio Utang Membaik

Selain peningkatan kinerja operasional, penurunan beban keuangan bersih turut mendukung kenaikan laba. Kondisi tersebut sejalan dengan berkurangnya saldo pinjaman serta optimalisasi pengelolaan kas yang menghasilkan pendapatan bunga.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp110,3 miliar, meningkat 82 persen dibandingkan Rp60,6 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Struktur keuangan perusahaan juga menunjukkan perbaikan. Rasio EBITDA terhadap beban bunga meningkat menjadi 3,1 kali, dibandingkan 2,7 kali pada sembilan bulan pertama 2025.

Sementara itu, rasio utang bersih terhadap EBITDA turun menjadi 3,45 kali dari sebelumnya 3,94 kali. Perbaikan ini didukung pertumbuhan EBITDA dan arus kas operasional yang stabil, disertai upaya pengurangan utang.

Tantangan Menjaga Pertumbuhan Berkelanjutan

Memasuki kuartal IV 2026, Samator menyatakan optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan dengan memperkuat kemitraan pelanggan, menjaga efisiensi, serta melakukan investasi secara terukur untuk menambah kapasitas produksi.

Meski demikian, keberlanjutan peningkatan laba tetap bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga efisiensi biaya, mempertahankan permintaan pasar, dan mengelola kewajiban keuangan di tengah dinamika biaya operasional.

Kinerja hingga September 2026 menjadi indikator positif bagi perseroan. Namun, perkembangan pada kuartal terakhir akan menjadi penentu untuk melihat konsistensi pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas hingga akhir tahun.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.