Nelayan Pantura Perkuat Perlindungan FSO Gagak Rimang

oleh -68 Dilihat
oleh
Nelayan Pantura Perkuat Perlindungan FSO Gagak Rimang
Nelayan pesisir Pantura di Lamongan dan Tuban kini berperan aktif menjaga keamanan zona terbatas di sekitar kapal FSO Gagak Rimang milik ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) demi melindungi ekosistem laut yang menjadi sumber mata pencaharian mereka.
banner 468x60

LAMONGAN, Garudasatunews.id – Kesadaran nelayan pesisir utara (Pantura) Lamongan dan Tuban dalam menjaga keselamatan laut serta objek vital nasional terus meningkat. Melalui sosialisasi dan pendampingan berkelanjutan, para nelayan kini tidak hanya berperan sebagai pencari ikan, tetapi juga menjadi mitra dalam menjaga keamanan Floating Storage and Offloading (FSO) Gagak Rimang, fasilitas penyimpanan dan alir muat minyak mentah yang beroperasi di Laut Jawa.

FSO Gagak Rimang berada sekitar 35 mil laut dari pesisir Lamongan dengan kapasitas penyimpanan mencapai 1,7 juta barel minyak mentah. Sejak 2015, fasilitas tersebut menerima pasokan minyak dari Blok Cepu, Bojonegoro, melalui pipa sepanjang sekitar 95 kilometer dan menjadi bagian penting dalam rantai produksi minyak nasional.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lamongan, Haji Sukri, mengatakan pemahaman nelayan terhadap pentingnya menjaga kawasan operasional FSO terus berkembang setelah mengikuti berbagai program sosialisasi yang difasilitasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) selaku operator Blok Cepu.

Menurutnya, nelayan kini memahami keberadaan Zona Terlarang dengan radius 500 meter dari titik pusat FSO serta Zona Terbatas hingga radius 1.750 meter. Kawasan tersebut tidak hanya bertujuan melindungi fasilitas strategis negara, tetapi juga meminimalkan risiko kecelakaan di laut dan menjaga kelestarian lingkungan.

“Apabila terjadi kebocoran atau gangguan operasional, dampaknya bukan hanya pada industri migas, tetapi juga terhadap ekosistem laut, terumbu karang, dan mata pencaharian ribuan nelayan,” ujar Haji Sukri.

Data di kawasan pesisir Lamongan menunjukkan lebih dari 26 ribu warga menggantungkan hidup dari sektor perikanan. Karena itu, perlindungan lingkungan laut dinilai menjadi kepentingan bersama antara masyarakat pesisir dan pengelola fasilitas migas.

Tokoh nelayan Lamongan, Muchlisin Amar, menambahkan bahwa para nelayan telah dibekali prosedur pelaporan serta nomor darurat apabila menemukan aktivitas mencurigakan di sekitar FSO Gagak Rimang. Menurutnya, kolaborasi tersebut memperkuat sistem pengawasan berbasis masyarakat.

“Kami merasa ikut bertanggung jawab menjaga laut dan fasilitas ini demi keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir,” katanya.

Pendekatan kolaboratif tersebut juga menunjukkan hasil. Sejak program pembinaan dijalankan, tidak tercatat adanya pelanggaran batas kawasan yang berpotensi mengganggu operasional FSO maupun membahayakan lingkungan. Komunikasi antara nelayan dan pengelola fasilitas disebut semakin terbuka sehingga potensi risiko dapat diantisipasi lebih dini.

Selain memperkuat aspek keselamatan laut, EMCL juga menjalankan program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) olahan hasil laut di Kecamatan Paciran dan Brondong.

Program yang dimulai sejak 2022 itu mendorong inovasi produk terasi tradisional menjadi terasi bubuk siap pakai yang lebih higienis, memiliki daya simpan lebih lama, dan bernilai jual lebih tinggi. Hingga pertengahan 2026, sedikitnya sepuluh pelaku usaha binaan telah berhasil melakukan transformasi produk.

Salah satu pelaku usaha, Fredy Sugianto, pemilik jenama “Dua Terasi”, mengaku memperoleh pendampingan mengenai standar pengolahan pangan, kebersihan produksi, hingga bantuan mesin pengering, penggiling, dan mesin press.

Menurut Fredy, inovasi tersebut membuat kualitas produk meningkat, lebih diminati konsumen, serta memperluas jangkauan pemasaran ke sejumlah daerah seperti Gresik, Jakarta, Bogor, Bali, Demak, Madiun, Magetan, hingga Samarinda.

Selain itu, penerapan pelabelan produk yang memuat komposisi dan tanggal kedaluwarsa turut meningkatkan daya saing sehingga produknya dapat dipasarkan di toko oleh-oleh maupun platform perdagangan daring.

Hal serupa dirasakan Devi Uliana, pemilik Rumah Fajrin Paciran. Setelah memperoleh pelatihan teknis dan dukungan peralatan produksi, usahanya berkembang dengan memproduksi terasi, sambal rujak, hingga berbagai olahan kerupuk ikan yang kini dipasarkan melalui jaringan reseller, toko oleh-oleh, dan marketplace.

Pemberdayaan UMKM tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui peningkatan keterampilan, pemanfaatan teknologi, serta perluasan akses pasar tanpa meninggalkan potensi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sinergi antara perlindungan kawasan laut, penguatan ekonomi masyarakat, dan pelestarian sumber daya pesisir menjadi salah satu model kolaborasi yang diharapkan mampu menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan di wilayah Pantura Lamongan dan Tuban.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.