Kemarau Ekstrem Berkah Petani Tembakau Madura: Kualitas Melonjak, Harga Naik Hingga 100 Persen

oleh -23 Dilihat
oleh
IMG-20260818-WA0031
IMG-20260818-WA0031
banner 468x60

 

 

SAMPANG, Garudasatunews.id — Musim kemarau ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia ternyata membawa kabar gembira sekaligus keuntungan luar biasa bagi para petani tembakau di Pulau Madura, Jawa Timur. Cuaca panas dan curah hujan yang sangat minim terbukti secara signifikan meningkatkan kualitas daun tembakau, sekaligus mendorong lonjakan harga jual hingga mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Kabar baik ini dirasakan langsung oleh para petani tembakau di Desa Tobai Tengah, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang. Mereka menyambut musim panen tahun ini dengan penuh syukur dan semangat tinggi. Panjangnya masa kemarau justru menjadi anugerah bagi tanaman tembakau yang tumbuh dengan kualitas jauh lebih unggul dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

 

Semangat gotong royong pun terlihat nyata di tengah masyarakat. Warga dari berbagai usia bahu-membahu mulai dari proses perajangan hingga penjemuran daun tembakau. Teriknya sinar matahari bukan menjadi beban, melainkan keuntungan besar: proses pengeringan berjalan jauh lebih cepat dan menghasilkan tembakau dengan kualitas yang dinilai jauh lebih baik.

 

“Alhamdulillah, hasil daun tembakau tahun ini sangat bagus karena tidak ada hujan,” ungkap Riyah, salah seorang petani tembakau di desa tersebut, Selasa (18/8/2026).

 

Ibu dua anak itu menjelaskan, paparan sinar matahari yang konsisten membuat warna daun tembakau berubah menjadi hijau kekuningan dengan bobot yang lebih padat dan bermutu. Selain itu, kondisi bebas hujan membuat getah daun menjadi lebih pekat — faktor kunci yang menentukan tingginya kualitas tembakau.

 

Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan musim sebelumnya yang mengalami apa yang disebut kemarau basah. Curah hujan yang masih tinggi saat masa tanam dan panen menyebabkan banyak tanaman rusak, kualitas menurun, dan harga jual anjlok. “Kalau tahun sebelumnya sering turun hujan, harganya jauh lebih murah dan banyak hasil panen yang rusak,” kenang Riyah.

 

Kini, tembakau kering dapat dijual dengan harga berkisar antara Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram — naik hampir 100 persen dari tahun lalu yang hanya di angka Rp30.000 per kilogram.

 

Dalam satu musim panen, petani dapat memetik daun tembakau sebanyak tiga hingga empat kali. Setiap kali panen, hasil rajangan yang telah dikeringkan dapat mencapai sekitar 2 kuintal. Dihitung dengan harga saat ini, satu kali panen saja berpotensi menghasilkan pendapatan sebesar Rp12 juta hingga Rp14 juta angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

 

Selain melahirkan kualitas terbaik dan harga tertinggi, cuaca panas yang stabil juga memangkas waktu proses produksi. Jika biasanya penjemuran membutuhkan waktu tiga hingga lima hari, kini proses tersebut dapat berjalan jauh lebih singkat. Efisiensi waktu ini tentu menambah keuntungan tambahan bagi para petani sebelum musim panen berikutnya tiba. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.