Karhutla Bromo Meluas, Khofifah Maksimalkan Water Bombing

oleh -74 Dilihat
oleh
Karhutla Bromo Meluas, Khofifah Maksimalkan Water Bombing
Khofifah meninjau langsung penanganan karhutla di kawasan TNBTS, Kabupaten Probolinggo. Luas lahan terdampak kebakaran telah mencapai sekitar 176 hektare.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung memantau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jumat (7/8/2026). Luas area terdampak kebakaran telah mencapai sekitar 176 hektare, sehingga operasi pemadaman diperkuat melalui jalur darat dan udara.

Khofifah memastikan operasi pemadaman terus dimaksimalkan dengan mengerahkan personel gabungan, helikopter water bombing, serta drone water bombing. Teknologi udara tersebut digunakan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses sekaligus membantu memantau persebaran api.

Didampingi Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur Gatot Soebroto dan Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja, Khofifah menyisir area terdampak di kawasan Gunung Bromo. Ia juga menyaksikan langsung pengoperasian drone water bombing yang memiliki kapasitas angkut sekitar 100 hingga 150 liter air dalam setiap penerbangan.

Perkembangan luasan kebakaran menjadi perhatian karena api yang pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8) hanya sekitar 7,9 hektare. Luasan tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 44 hektare dan pada Jumat pagi mencapai 176 hektare.

Sejak hari kedua kebakaran, Pemprov Jawa Timur berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperkuat operasi udara dengan helikopter water bombing berkapasitas sekitar 1.000 liter.

“Sejak hari kedua saya sudah berkoordinasi dengan BNPB agar penanganan diperkuat melalui dukungan helikopter water bombing. Alhamdulillah mulai hari Jum’at (7/8) helikopter dari Kalimantan Tengah sudah tiba dan mulai mendukung proses pemadaman,” ujar Khofifah.

Operasi udara kini menjadi bagian penting dari strategi pemadaman karena sebagian medan kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat. Namun, efektivitas water bombing masih sangat bergantung pada kondisi cuaca, terutama kecepatan angin yang berpengaruh terhadap keselamatan penerbangan.

“Water bombing sudah mulai dilaksanakan. Namun ketika angin bertiup cukup kencang, operasional helikopter harus menyesuaikan kondisi demi keselamatan. Karena itu strategi pemadaman terus disesuaikan dengan situasi di lapangan,” jelasnya.

Satu unit helikopter tambahan dari BNPB dijadwalkan tiba pada Sabtu (8/8). Jika kondisi angin memungkinkan, dua armada helikopter diharapkan dapat meningkatkan intensitas pemadaman.

“Hari ini akan datang lagi heli perbantuan dari BNPB. Kalau ada dua armada heli water bombing, semoga anginnya bisa landai sehingga dua heli bisa memaksimalkan melakukan water bombing dan pemadaman hari ini,” kata Khofifah.

Dari sisi dukungan sumber air, Khofifah menyebut operasi water bombing tahun ini memiliki keuntungan karena helikopter dapat mengambil air dari Ranupani. Lokasi tersebut dinilai lebih dekat dibandingkan sumber air yang digunakan saat penanganan karhutla 2023, ketika pengambilan air dilakukan dari Kaliandra maupun Batu.

Selain operasi udara, BNPB, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Balai Besar TNBTS, relawan pecinta hutan dan gunung, serta masyarakat sekitar dikerahkan untuk mengendalikan api dan mencegah dampak lebih luas terhadap kawasan konservasi.

“Terima kasih relawannya banyak sekali, Manggala Agni, relawan pecinta hutan, pecinta gunung disekitaran Bromo semua punya peran yang luar biasa, TNI/Polri juga mengerahkan pasukannya. Support mereka mudah-mudahan mempercepat semua proses recovery,” ujar Khofifah.

Di tengah percepatan pemadaman, penyebab kebakaran masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja menyebut dugaan awal mengarah pada faktor manusia, bukan faktor alam. Namun, ia menegaskan penyebab pasti masih dalam penyelidikan.

“Kalau dari dugaan ada kemungkinan itu faktor manusia jadi bukan faktor alam, karena jalur di atas awal api itu ada di puncak tebing. Ada jalur tradisional yang menghubungkan Desa Arjosari dan Desa Ranupani. Sepertinya tidak ada unsur sengaja kalau menurut kami,” ungkap Rudijanta.

Pernyataan tersebut membuka ruang bagi penyelidikan lebih lanjut, terutama untuk memastikan bagaimana api pertama kali muncul dan mengapa luasan terdampak meningkat signifikan dalam beberapa hari.

Untuk sementara, seluruh tim memprioritaskan pengendalian api agar tidak semakin meluas. Investigasi mengenai penyebab kebakaran tetap dilakukan secara paralel.

Khofifah berharap tambahan armada udara, kondisi cuaca yang mendukung, ketersediaan sumber air yang lebih dekat, serta sinergi seluruh personel mampu mempercepat pemadaman hingga seluruh titik api di kawasan TNBTS benar-benar terkendali.

“Semoga tambahan satu heli water bombing hari ini, Sabtu (8/8) dapat melakukan pemadaman sampai tuntas,” harapnya.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.