SURABAYA, Garudasatunews.id – Kali Mrutu di Kecamatan Semampir, Surabaya, yang sebelumnya dikenal menghadapi persoalan sampah, kini menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian serius dalam upaya pengendalian sampah sungai dan pencegahan pencemaran menuju laut.
Penanganan Kali Mrutu tidak hanya mengandalkan pembersihan sungai, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Kelompok warga, termasuk para ibu rumah tangga, turut mengambil peran dalam mengawasi kebersihan lingkungan dan mengubah kebiasaan membuang sampah ke aliran sungai.
Upaya tersebut diperkuat melalui Program Kali Mrutu Warrior yang dikembangkan Yayasan Lohjinawi bersama pemangku kepentingan di wilayah Kecamatan Semampir. Program ini diarahkan untuk membangun kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat pengelolaan sampah dari tingkat lingkungan.
Sekretaris Kecamatan Semampir Saiful Danuri sebelumnya menyebut wilayahnya memiliki sejumlah program untuk menangani persoalan sampah. Di antaranya kerja bakti rutin, pemasangan CCTV swadaya di sejumlah titik rawan pembuangan sampah liar, hingga pengembangan kawasan sungai sebagai bagian dari kegiatan lingkungan dan wisata air.
Persoalan Kali Mrutu juga tidak berhenti pada sampah yang dibuang langsung oleh warga. Saat hujan deras, arus air dari wilayah hulu dapat membawa sampah menuju kawasan Semampir sehingga terjadi penumpukan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan sampah sungai membutuhkan pengawasan dari hulu hingga hilir, bukan sekadar pembersihan setelah sampah menumpuk.
Pemerintah Kota Surabaya juga menjalankan program pengendalian sampah plastik di aliran sungai. Kali Mrutu menjadi salah satu lokasi pemasangan sistem penahan sampah atau trash boom untuk menghambat sampah plastik terbawa arus menuju laut. Pemerintah kota menyebut sekitar satu ton sampah plastik per hari dapat diangkat dari sejumlah aliran sungai melalui kolaborasi dengan organisasi lingkungan.
Kali Mrutu bersama Kali Tebu dipilih sebagai wilayah pelaksanaan program karena masih menghadapi persoalan sampah yang perlu ditangani secara terpadu. Program tersebut tidak hanya mencakup pengelolaan sampah, tetapi juga pendampingan masyarakat, pengurangan timbulan sampah, serta penguatan sistem pengelolaan lingkungan di sekitar sungai.
Keterlibatan warga menjadi bagian penting karena keberhasilan program tidak cukup diukur dari seberapa banyak sampah yang berhasil diangkat. Persoalan utama berada pada bagaimana sampah tidak kembali masuk ke sungai setelah proses pembersihan dilakukan.
Dengan pendekatan tersebut, perubahan Kali Mrutu diarahkan bukan hanya menjadi persoalan kebersihan sungai, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat. Partisipasi warga di tingkat lingkungan menjadi salah satu kunci agar upaya pemerintah dan organisasi lingkungan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pengawasan, edukasi dan sistem pengelolaan sampah berjalan konsisten. Sebab, tanpa perubahan kebiasaan dan pengendalian dari sumbernya, sampah yang berhasil dibersihkan berpotensi kembali memenuhi aliran sungai.
(Red-Garudasatunews)














