Imbas Kelangkaan di Sumenep, Harga Pertalite Eceran di Pulau Giliraja Tembus Rp25 Ribu per Botol.

oleh -35 Dilihat
oleh
banner 468x60

 

​SUMENEP, Garudasatunews.id – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Sumenep, Madura, kian meresahkan. Kondisi ini memicu lonjakan harga yang ugal-ugalan di tingkat pengecer, terutama di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) seperti wilayah kepulauan.

 

 

​Di Pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting, harga Pertalite eceran di toko kelontong dilaporkan menembus angka Rp25.000 per 1,5 liter (ukuran botol air mineral besar). Kebijakan harga sepihak ini terjadi akibat menipisnya pasokan komoditas bersubsidi tersebut di masyarakat.

 

​Stok Langka, Pengecer Naikkan Harga :

​Salah seorang warga Desa Banmaleng, Pulau Giliraja, A. Rofik, mengungkapkan bahwa mayoritas toko kelontong di wilayahnya sudah kehabisan stok Pertalite sejak beberapa hari terakhir.

​“Saya sudah cek ke lima toko langganan, semuanya kosong. Beberapa toko yang saya datangi bahkan terpaksa beralih menjual Pertamax,” ujar Rofik, Selasa (30/6/2026).

 

 

​Rofik menambahkan, minimnya pasokan ini dimanfaatkan oleh segelintir pengecer yang masih memiliki sisa stok untuk melambungkan harga demi meraup keuntungan tinggi. Saat dikonfirmasi mengenai lonjakan harga tersebut, para pemilik toko berdalih hal itu dipicu oleh tingginya modal awal dan beban transportasi laut.

​“Alasan mereka, harga dari distributor pertama memang sudah naik, belum lagi ditambah biaya akomodasi pengiriman ke pulau,” jelasnya.

 

 

​Kelangkaan ini langsung memukul roda perekonomian masyarakat setempat. Mengingat sepeda motor merupakan moda transportasi utama di Pulau Giliraja, warga kini kesulitan untuk beraktivitas sehari-hari.

​Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan melakukan pengawasan ketat agar distribusi BBM kembali normal dan bebas dari praktik penimbunan.

​“Kami berharap pasokan Pertalite di Pulau Giliraja kembali lancar. Jangan sampai ada oknum yang bermain (menimbun), dan kami ingin harganya bisa stabil lagi,” pungkas Rofik seperti dikutip mediajatim (01/07).

 

 

​Sementara itu, upaya konfirmasi terkait langkah penanganan krisis energi ini belum membuahkan hasil. Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, tidak merespons upaya hubung via WhatsApp yang dikirimkan redaksi pada pukul 10.24 WIB, 11.57 WIB, hingga 11.59 WIB. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemkab Sumenep.(red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.