Harmoni Syawal di Bumi Jenggolo: Saat Halal Bihalal, Jaranan Bantengan, dan Hari Jadi Sang “Bopo” Menyatu

oleh -42 Dilihat
oleh
banner 468x60

Sidoarjo – garudasatunews.id  — Tabuhan kendang dan alunan selompret memecah keheningan, menggema di pelataran Museum Mpu Tantular, Kabupaten Sidoarjo, pada Minggu (26/4/2026). Suasana hangat nan meriah tergambar jelas dari raut wajah ratusan penonton yang berkumpul dalam balutan kebersamaan pada hari itu. Bukan sekadar ajang silaturahmi biasa pasca-Lebaran, momen di area museum bersejarah ini menjadi panggung perayaan harmoni yang indah antara tradisi, keyakinan, dan pelestarian budaya masyarakat setempat.

​Siang itu, semangat persaudaraan dalam bingkai acara Halal Bihalal menyatu sempurna dengan dentum kemeriahan Gebyar Seni Budaya. Masyarakat yang hadir tak hanya saling bermaafan, tetapi juga disuguhkan daya tarik utama yang selalu dinanti, yakni pertunjukan seni jaranan bantengan. Kesenian adiluhung yang memadukan unsur magis, estetika gerak, dan kekuatan fisik ini sukses membius setiap mata yang memandang.

 

​Di tengah kerumunan warga dan kepungan para seniman, hadir sesosok figur yang tak asing lagi bagi masyarakat Sidoarjo. Ia adalah Bapak Warih Handono, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo. Namun, kehadirannya kali ini terasa jauh dari sekat birokrasi yang kaku. Ia melebur bersama warga, menanggalkan sejenak atribut politiknya untuk tampil membumi sebagai seorang pegiat budaya—sebuah jati diri yang memang telah lama melekat kuat di dalam nadinya.

 

​Puncak kesakralan acara dimulai saat upacara ritual pembuka seni jaranan hendak dilangsungkan. Dalam momen yang sarat akan nilai magis dan penghormatan terhadap leluhur tersebut, Bapak Warih Handono didapuk mengambil peran krusial sebagai “Bopo”. Dengan khidmat, sang Bopo memimpin prosesi pemanjatan doa dan pembukaan ruang spiritual, memastikan pertunjukan jaranan bantengan dapat berjalan lancar, aman, dan penuh keberkahan.

 

​Usai peluit spiritual ditiupkan melalui rapalan doa sang Bopo, arena langsung bergemuruh. Para penari jaranan dan pembarong bantengan unjuk kebolehan, menampilkan atraksi memukau yang memompa adrenalin. Hentakan kaki para penari dan suara pecut yang menggelegar di udara seolah menjadi bahasa universal yang menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam kebanggaan akan warisan seni tradisional.

 

​Menariknya, nuansa sakral dan tawa bahagia pada hari itu menyimpan sebuah kejutan manis, karena secara kebetulan bertepatan dengan momen istimewa bagi sang Bopo. Tepat di hari perhelatan Gebyar Seni Budaya tersebut, Bapak Warih Handono tengah merayakan hari ulang tahunnya. Sontak, acara Halal Bihalal ini bertransformasi menjadi panggung keakraban yang dipenuhi untaian doa panjang umur dan ucapan selamat dari para seniman maupun warga.

 

​Momen bertambahnya usia sang Wakil Ketua DPRD ini menegaskan betapa eratnya ikatan emosional antara dirinya dengan akar rumput komunitas seni. Kehadiran tokoh pemerintahan yang mau turun langsung berpeluh keringat melestarikan tradisi menjadi angin segar bagi para pelaku seni lokal. Hal ini membuktikan bahwa elemen pemerintahan dan seniman dapat saling berangkulan erat dalam merawat identitas kebudayaan daerah.

 

​Apresiasi mendalam pun mengalir deras dari para pelaku seni, salah satunya disampaikan oleh Bapak Deki. Selaku pimpinan acara yang juga berdedikasi sebagai pegiat budaya, ia menuturkan rasa syukur dan kebanggaannya. “Kami sangat berterima kasih atas kedatangan Bapak Warih. Harapan kami, kehadiran dan dukungan langsung dari beliau tidak hanya menjadi respons positif, tetapi juga mampu menjadi stimulus bagi anggota DPRD lainnya serta jajaran pemerintahan untuk lebih proaktif dan turun tangan langsung dalam melestarikan kegiatan seni budaya di Kabupaten Sidoarjo,” ungkap Bapak Deki dengan penuh semangat.

 

​Pada akhirnya, perpaduan antara hangatnya silaturahmi Halal Bihalal, atraktifnya Gebyar Seni Budaya jaranan bantengan di lingkungan Museum Mpu Tantular, dan perayaan hari jadi Bapak Warih Handono merangkai sebuah simfoni kenangan yang indah. Acara ini tak sekadar menjadi tontonan, melainkan tuntunan tentang betapa pentingnya sinergi untuk menjaga nyala kebudayaan. Harapannya, denyut nadi kesenian tradisional di Sidoarjo akan terus hidup, diwariskan, dan tak lekang tergerus oleh laju zaman.( Faisal – tim)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.