Hanya 310 Lulusan SMK Jember Berminat Kerja ke Luar Negeri

oleh -18 Dilihat
oleh
Hanya 310 Lulusan SMK Jember Berminat Kerja ke Luar Negeri
Kepala Dinas Pendidikan Jember Hadi Mulyono
banner 468x60

JEMBER, Garudasatunews.id – Minat lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Jember untuk bekerja ke luar negeri masih tergolong rendah. Dari pendataan yang dilakukan, hanya sekitar 310 lulusan SMK yang tercatat berminat mengambil peluang kerja di luar negeri.

Angka tersebut menjadi perhatian di tengah terbukanya kebutuhan tenaga kerja Indonesia di berbagai negara. Pemerintah saat ini juga mendorong lulusan SMK agar tidak hanya berorientasi pada pasar kerja domestik, tetapi mampu bersaing di pasar kerja global.

Rendahnya minat tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana informasi, kesiapan kompetensi, akses pembiayaan, hingga mekanisme perlindungan pekerja migran telah dipahami oleh calon lulusan SMK di Jember.

Persoalan ini penting karena Jember memiliki basis lulusan vokasi yang semestinya dapat menjadi sumber tenaga kerja terampil. Namun, peluang bekerja di luar negeri tidak otomatis menarik minat apabila lulusan belum memperoleh informasi yang memadai mengenai negara tujuan, jenis pekerjaan, persyaratan, kemampuan bahasa, sertifikasi kompetensi, hingga jaminan perlindungan.

Pemerintah sendiri tengah memperluas program penyiapan lulusan SMK untuk pasar kerja global. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, misalnya, mendorong skema SMK 3+1 yang memberikan penguatan keterampilan, pengalaman kerja, serta persiapan bagi siswa yang ingin masuk pasar kerja internasional.

Di sisi lain, persoalan lapangan kerja di Jember juga menjadi tantangan tersendiri. Data dan pernyataan pemerintah daerah sebelumnya menunjukkan pengangguran di Jember masih cukup besar dan didominasi lulusan SMK. Dinas Tenaga Kerja Jember bahkan menilai keberadaan Bursa Kerja Khusus (BKK) di sekolah perlu diperkuat agar lulusan tidak sekadar mencari kerja, tetapi dapat langsung terserap dunia kerja.

Kondisi tersebut menunjukkan persoalan 310 lulusan yang berminat ke luar negeri tidak semata-mata berkaitan dengan keinginan bekerja di negara lain. Ada mata rantai yang perlu dibenahi, mulai dari kesiapan sekolah, keterhubungan dengan industri, sertifikasi, penguasaan bahasa asing, informasi pasar kerja hingga kepastian perlindungan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Peluang sebenarnya cukup besar. Pemerintah pusat menyebut kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara terus berkembang dan mendorong program SMK Go Global, termasuk perluasan peluang kerja melalui skema penempatan ke Jepang.

Karena itu, rendahnya angka peminat di Jember patut menjadi bahan evaluasi bersama. Pemerintah daerah, sekolah, dunia usaha, lembaga pelatihan dan instansi perlindungan PMI perlu memastikan peluang kerja luar negeri benar-benar dapat diakses secara aman, transparan dan berbasis kompetensi.

Yang tidak kalah penting, informasi mengenai bekerja ke luar negeri harus diberikan secara utuh kepada lulusan dan keluarga. Mereka perlu mengetahui bukan hanya besarnya peluang penghasilan, tetapi juga prosedur resmi, biaya, kontrak kerja, hak pekerja serta risiko yang mungkin dihadapi.

Dengan demikian, angka 310 bukan sekadar statistik minat lulusan SMK. Angka tersebut dapat menjadi indikator untuk mengukur seberapa efektif ekosistem pendidikan vokasi dan ketenagakerjaan Jember membuka akses bagi generasi muda menuju pasar kerja global.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.