Halaqoh Alim Ulama Sidoarjo Rumuskan 5 Pegangan Muktamar NU

oleh -18 Dilihat
oleh
Halaqoh Alim Ulama Sidoarjo Rumuskan 5 Pegangan Muktamar NU
Puluhan kiai dari berbagai daerah mengikuti Halaqoh Alim Ulama Pengasuh Pondok Pesantren di Al Khoziny Buduran, Sidoarjo.
banner 468x60

SIDOARJO, Garudasatunews.id – Halaqoh Alim Ulama Pengasuh Pondok Pesantren di Lembaga Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, merumuskan lima poin yang dinilai penting menjadi pegangan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, 27-30 Agustus 2026.

Forum bertema “Merawat Khittoh untuk Persatuan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama” tersebut diikuti puluhan kiai dari berbagai daerah. Halaqoh digelar untuk mendorong agar Muktamar NU berlangsung aman, damai, serta menghasilkan kepemimpinan yang amanah.

KH Ali Maschan Musa menyebut lima rumusan tersebut sebagai pijakan yang perlu diperhatikan dalam Muktamar. Poin pertama menegaskan posisi NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang harus tetap kokoh dalam berkhidmat kepada umat, bangsa, dan kemaslahatan masyarakat.

Kedua, NU ditegaskan menjalankan fungsi sebagai Himayatul Ummah wa Harokah al-Jam’iyyah, yakni menjadi pelindung dan pengayom umat sekaligus menjaga kesinambungan organisasi, tradisi, serta cita-cita Nahdlatul Ulama.

Ketiga, pesantren ditempatkan sebagai pusat tradisi keilmuan NU. Pesantren dinilai memiliki peran penting dalam kaderisasi ulama, pembentukan karakter, serta menjaga tradisi turats dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Keempat, kepemimpinan NU didorong berbasis nilai spiritual dan tetap berakar pada jamaah. Kepemimpinan organisasi harus mengedepankan keteladanan ulama, akhlakul karimah, serta tidak meninggalkan jamaah sebagai basis utama perjuangan NU.

Kelima, setiap kebijakan NU diminta mengutamakan kaidah Dar’ul Mafasid Muqaddamun ‘ala Jalbil Mashalih. Prinsip tersebut menekankan bahwa mencegah kerusakan harus didahulukan daripada menarik kemaslahatan, terutama untuk menjaga persatuan, marwah, dan keberlangsungan organisasi.

Rumusan tersebut menjadi sorotan penting karena Muktamar NU ke-35 bukan hanya berkaitan dengan pergantian atau penetapan kepemimpinan, tetapi juga menyangkut arah organisasi dalam menjalani perjalanan menuju abad kedua. Sejumlah kalangan sebelumnya juga mengingatkan pentingnya kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan umat dan terhindar dari konflik kepentingan.

Dalam halaqoh, KH Ali Maschan Musa juga menekankan pentingnya Khittah NU sebagai perisai untuk menjaga marwah organisasi. NU, menurut pandangan yang disampaikan dalam forum tersebut, harus tetap independen, mandiri, berdaulat, serta berdiri di atas kepentingan seluruh golongan.

Sementara itu, KH Ahmad Kafabihi Mahrus Lirboyo mengingatkan NU agar menjaga jarak yang sehat dengan kekuasaan. Dukungan terhadap kebijakan pemerintah dapat diberikan apabila membawa kemaslahatan bagi umat, namun NU tetap harus kritis ketika sebuah kebijakan dinilai berpotensi menimbulkan kerusakan.

Para ulama juga menilai NU perlu mempertahankan peran sebagai jangkar moral masyarakat. Karena itu, organisasi dinilai harus memperkuat moralitas, intelektualitas, spiritualitas, dan integritas agar tidak kehilangan arah akibat tarikan kepentingan kekuasaan maupun materi.

Lima rumusan tersebut kini menjadi salah satu pesan penting menjelang Muktamar NU ke-35. Ujian berikutnya adalah bagaimana prinsip yang dirumuskan dalam halaqoh itu diterjemahkan menjadi keputusan organisasi dan kepemimpinan yang benar-benar menjaga persatuan serta khidmah NU kepada masyarakat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.