Gus Ipul Luncurkan Fikih Disabilitas Psikososial

oleh -14 Dilihat
oleh
Gus Ipul Luncurkan Fikih Disabilitas Psikososial
Gus Ipul Luncurkan Buku Fikih Penguatan Disabilitas Mental Psikososial di Teras Gubuk Ploso
banner 468x60

KEDIRI, Garudasatunews.id – Peluncuran buku “Fikih Penguatan Disabilitas Psikososial dari Pemahaman Keagamaan Menuju Kesamaan Hak dan Keadilan Sosial” yang digelar oleh Komisi Nasional Disabilitas di Teras Gubuk Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/6/2026), menyoroti masih kuatnya persoalan paradigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas mental-psikososial di ruang sosial maupun keagamaan.

Kegiatan yang berlangsung di sela Musyawarah Nasional dan Konbes Nahdlatul Ulama itu menjadi panggung penguatan narasi inklusivitas, sekaligus menyingkap tantangan serius terkait cara pandang publik yang dinilai masih terjebak pada standar “normalitas” tunggal.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dalam sambutannya menegaskan bahwa buku tersebut bukan sekadar dokumen ilmiah-keagamaan, melainkan instrumen moral dan sosial untuk menggeser cara pandang umat terhadap penyandang disabilitas mental-psikososial. Ia menekankan pentingnya kesetaraan martabat manusia yang dijamin konstitusi, agama, dan prinsip kemanusiaan universal.

“Dengan ini buku Fikih Penguatan Disabilitas Mental Psikososial… secara resmi saya luncurkan,” ujar Gus Ipul dalam prosesi yang turut diiringi pembacaan Al-Fatihah.

Peluncuran ini melibatkan kolaborasi lembaga seperti Lembaga Bahtsul Masail NU (LBM NU), Lakpesdam NU, P3M, serta Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui program inklusi di bawah koordinasi Komisi Nasional Disabilitas, yang menegaskan adanya upaya lintas lembaga dalam membangun pendekatan baru terhadap isu disabilitas.

Komisioner Komisi Nasional Disabilitas Jonna Aman Damanik dalam forum tersebut mengungkap bahwa problem utama yang masih menghambat inklusi adalah kuatnya konstruksi sosial tentang “hegemoni normalitas” yang mempengaruhi cara masyarakat menilai penyandang disabilitas.

Ia menilai, perubahan paradigma tidak cukup hanya melalui kebijakan formal, tetapi juga membutuhkan pendekatan nilai dan keyakinan agar perspektif masyarakat lebih setara.

Dalam kesempatan yang sama, pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso, Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar, menyampaikan bahwa buku tersebut merekam realitas sosial yang masih kerap gagal memahami perbedaan, baik fisik maupun mental, dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyoroti bahwa penolakan terhadap perbedaan kerap muncul dari bias psikologis manusia terhadap konsep keindahan dan keseragaman, yang jika tidak dikendalikan dapat berujung pada diskriminasi sosial.

Di akhir kegiatan, Gus Kautsar menyampaikan apresiasi kepada Komisi Nasional Disabilitas atas inisiatif memperkuat agenda inklusi, seraya menekankan pentingnya implementasi nyata agar kebijakan dan gagasan tersebut berdampak langsung bagi penyandang disabilitas mental-psikososial di masyarakat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.