JEMBER, Garudasatunews.id – Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan melalui Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya bersama Balai Pengujian Perkeretaapian melaksanakan pengujian fungsi terhadap dua jembatan jalur kereta api di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (5/8/2026). Pengujian dilakukan untuk memastikan kekuatan struktur jembatan tetap memenuhi standar keselamatan operasional perjalanan kereta api.
Pengujian berlangsung di Jembatan BH 307 di Desa Patemon dan Jembatan BH 312 di Desa Bedadung, yang berada di lintas Arjasa-Kotok, Kecamatan Pakusari. Sebanyak dua lokomotif CC300 produksi PT INKA milik Balai Perawatan dengan total beban sekitar 180 ton digunakan sebagai alat uji statis guna mengukur tingkat kelendutan serta daya dukung struktur kedua jembatan tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari rangkaian inspeksi berkala infrastruktur perkeretaapian yang bertujuan memastikan kondisi jembatan tetap laik operasi. Hasil pengujian akan menjadi dasar evaluasi apakah tingkat kelenturan struktur masih berada dalam batas aman sesuai spesifikasi teknis, mengingat kedua jembatan diproyeksikan memiliki masa layanan lebih dari 50 tahun.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, menegaskan bahwa aspek keselamatan perjalanan kereta api merupakan prioritas utama yang tidak dapat ditawar. Menurutnya, pengujian fungsi dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga keamanan, kenyamanan, dan keselamatan masyarakat pengguna jasa transportasi kereta api.
“Melalui uji fungsi ini, diharapkan penumpang dapat lebih merasa tenang, nyaman, dan aman dalam perjalanan dari dan ke Jember maupun Banyuwangi. Terlebih, lalu lintas perjalanan kereta api yang melintasi wilayah Jember cukup tinggi, termasuk adanya layanan kereta api lokal Jember-Banyuwangi,” ujarnya.
Humas Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I DJKA Surabaya, Alfaviega Septian Pravangasta, menjelaskan bahwa pengujian yang dilakukan merupakan pengujian statis. Dalam metode tersebut, lokomotif ditempatkan berhenti di atas jembatan untuk mengetahui perubahan kelendutan struktur ketika menerima beban maksimum yang telah ditentukan.
“Lokomotif berhenti di atas jembatan, kemudian dilakukan pengukuran untuk mengetahui bagaimana kelendutan atau kelengkungan jembatan saat menerima beban,” jelas Alfaviega.
Berdasarkan keterangan DJKA, kedua jembatan tersebut dibangun pada periode 2024 hingga 2025 sebagai pengganti jembatan lama peninggalan era Djawatan Kereta Api tahun 1950-an. Jembatan BH 312 menggunakan struktur baja kurung, sementara keseluruhan desain baru memiliki dimensi yang lebih besar dibanding konstruksi sebelumnya.
Selain meningkatkan kapasitas struktur, desain baru juga menghilangkan pilar yang sebelumnya berada di tengah aliran sungai. Menurut DJKA, perubahan desain tersebut merupakan langkah mitigasi terhadap potensi gangguan pada konstruksi akibat derasnya arus sungai saat musim hujan.
“Pada jembatan lama terdapat pilar di tengah sungai yang menjadi salah satu bagian yang harus terus dipantau karena berpotensi mengalami gerusan arus air. Oleh karena itu, jembatan baru dibangun tanpa pilar di tengah sungai,” terang Alfaviega.
Pengujian terhadap infrastruktur strategis seperti jembatan rel menjadi bagian penting dalam sistem pemeliharaan jaringan perkeretaapian nasional. Selain memastikan kelayakan teknis, hasil evaluasi juga menjadi acuan dalam menjaga keberlangsungan operasional kereta api yang melayani mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di wilayah Jember hingga Banyuwangi.
(Red-Garudasatunews)














