Dispar Kaltim Transplantasi Terumbu Karang di Pulau Miang

oleh -21 Dilihat
oleh
Dispar Kaltim Transplantasi Terumbu Karang di Pulau Miang
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur melaksanakan kegiatan Transplantasi Terumbu Karang di kawasan rehabilitasi terumbu karang Pokdarwis Pulau Miang Kabupaten Kutai Timur.
banner 468x60

KUTAI TIMUR, Garudasatunews.id – Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur melaksanakan transplantasi terumbu karang di kawasan rehabilitasi terumbu karang Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Miang, Kabupaten Kutai Timur, Minggu (16/8/2026). Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat upaya pelestarian ekosistem laut sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat dan wisatawan.

Kepala Dispar Kaltim Muhammad Faisal mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Dispar Kaltim bersama Yekhalis Scuba School, Pokdarwis Pulau Miang, dan Media Kaltim. Pembiayaan kegiatan dilakukan secara swadaya.

“Transplantasi karang ini sebagai upaya edukasi kepada pokdarwis dan masyarakat serta pelestarian untuk generasi masa depan,” kata Faisal.

Dalam kegiatan tersebut, tim menggunakan lima modul Mars Spider atau ReefStar sebagai media penempatan sebanyak 75 fragmen karang. Modul tersebut selanjutnya diletakkan di kawasan rehabilitasi terumbu karang Pulau Miang secara simbolis oleh perwakilan masing-masing unsur yang terlibat.

Perwakilan Dispar Kaltim Muhammad Faisal, Yekhalis Scuba School Auliansyah, Pokdarwis Aldi, akademisi Universitas Mulawarman Muchlis, serta perwakilan media Suriyatman turut terlibat dalam proses penempatan modul ke dasar laut.

Kegiatan juga ditandai dengan pemasangan prasasti oleh Kepala Dispar Kaltim. Prasasti tersebut diharapkan menjadi penanda sekaligus memudahkan proses pengawasan dan evaluasi terhadap keberlanjutan program rehabilitasi terumbu karang.

Faisal menegaskan rehabilitasi terumbu karang tidak dapat dinilai hanya dari kegiatan penanaman. Pertumbuhan karang membutuhkan waktu panjang hingga membentuk ekosistem yang berfungsi secara optimal.

Karang hasil transplantasi diperkirakan membutuhkan sekitar tiga hingga lima tahun untuk berkembang menjadi terumbu mini yang fungsional. Sementara untuk membentuk ekosistem yang benar-benar alami, prosesnya dapat berlangsung lebih dari 10 tahun.

Auliansyah dari Yekhalis Scuba School menjelaskan metode yang digunakan adalah MARRS (Mars Accelerated Coral Reef Restoration System) dengan menggunakan karang dari genus Acropora dan Pocillopora serta media modul ReefStar.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa transplantasi bukan pekerjaan sekali selesai. Keberhasilan program sangat bergantung pada perawatan, pemantauan, kondisi perairan, serta kepatuhan wisatawan dan masyarakat dalam menjaga kawasan rehabilitasi.

Pulau Miang sendiri merupakan salah satu destinasi wisata bahari di Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur, yang memiliki kekayaan terumbu karang dan ekosistem bawah laut. Pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan Pulau Miang sebagai destinasi wisata berbasis konservasi.

Karena itu, perhatian tidak cukup berhenti pada pemasangan puluhan fragmen karang. Pengawasan terhadap aktivitas wisata, perlindungan kawasan rehabilitasi, serta edukasi berkelanjutan menjadi bagian penting agar pengembangan pariwisata tidak justru menekan ekosistem yang menjadi daya tarik utama Pulau Miang.

Pemerintah dan pengelola wisata pun mengajak wisatawan serta masyarakat sekitar ikut menjaga terumbu karang yang tengah dipulihkan. Upaya tersebut menjadi penting mengingat pemulihan ekosistem laut membutuhkan waktu jauh lebih panjang dibandingkan aktivitas wisata yang berlangsung dalam hitungan hari.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.