Batik Bojonegoro Didorong Tembus Pasar Nasional

oleh -21 Dilihat
oleh
Batik Bojonegoro Didorong Tembus Pasar Nasional
Lilik Setyowati, perajin batik asal Desa Jono, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro.
banner 468x60

BOJONEGORO, Garudasatunews.id – Upaya penguatan identitas budaya lokal melalui industri kreatif batik terus dilakukan di Kabupaten Bojonegoro. Salah satu pelaku usaha, Lilik Setyowati, perajin asal Desa Jono, Kecamatan Temayang, konsisten mengembangkan motif khas daerah dengan kualitas produksi yang diklaim mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Sejak merintis usaha pada 2019, Lilik memproduksi batik tulis dan batik cap dengan mengangkat ikon lokal sebagai diferensiasi produk. Sejumlah motif seperti Tengul, Meliwis Putih, Khayangan Api, hingga daun jati dijadikan ciri utama yang merepresentasikan karakter budaya Bojonegoro. Strategi ini dinilai sebagai upaya mempertahankan kearifan lokal di tengah tekanan komersialisasi industri batik.

“Motif yang kami buat mengambil ciri khas Bojonegoro agar masyarakat lebih mengenal budaya daerah sendiri,” kata Lilik.

Dalam praktik produksinya, ia mengombinasikan teknik tradisional dan modern, termasuk penggunaan pewarna alami dan kimia untuk meningkatkan variasi serta daya tarik pasar. Namun demikian, belum ada standar baku terkait dominasi penggunaan bahan ramah lingkungan dalam proses tersebut.

Harga jual batik produksi Lilik berkisar antara Rp60 ribu hingga Rp2 juta per potong, bergantung pada kompleksitas motif dan jenis kain. Rentang harga ini menunjukkan segmentasi pasar yang cukup lebar, dari konsumen umum hingga kolektor.

Dari sisi distribusi, penjualan mencapai 6 hingga 15 potong per pekan. Angka ini mengindikasikan adanya permintaan stabil, meskipun belum menunjukkan lonjakan signifikan yang mencerminkan ekspansi pasar secara agresif.

Lilik berharap batik Bojonegoro tidak hanya bertahan di pasar lokal, tetapi juga mampu menembus pasar nasional hingga internasional. Namun, tantangan seperti promosi, akses pasar, dan perlindungan hak kekayaan intelektual masih menjadi pekerjaan rumah bagi pelaku usaha batik daerah.

Upaya pelestarian budaya melalui batik khas daerah dinilai memerlukan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta, agar tidak hanya menjadi simbol kearifan lokal, tetapi juga kekuatan ekonomi yang berdaya saing.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.