SURABAYA, Garudasatunews.id – PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) bersama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) membuka fasilitas pengiriman bantuan kemanusiaan secara gratis bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kebijakan tersebut ditujukan untuk mempercepat distribusi kebutuhan dasar ke wilayah bencana melalui jaringan transportasi laut.
Fasilitas itu memungkinkan lembaga, komunitas, instansi maupun masyarakat mengirimkan bantuan tanpa dikenakan biaya pengangkutan. Bantuan dapat berupa makanan dan kebutuhan pokok, air minum, tenda, terpal, selimut, perlengkapan tidur, obat-obatan dan peralatan medis, popok, susu serta makanan bayi dan kebutuhan kemanusiaan lainnya.
Di sisi operasional, pengiriman tetap mengikuti trayek dan jadwal reguler kapal PELNI. Artinya, bantuan tidak menggunakan jalur khusus di luar pola pelayaran yang tersedia, sehingga ketepatan distribusi sangat bergantung pada jadwal kapal dan pelabuhan yang menjadi tujuan. PELNI juga mensyaratkan surat pengantar resmi serta daftar barang atau packing list untuk setiap pengiriman.
Langkah tersebut telah direalisasikan melalui KM Tidar yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Minggu (16/8). Kapal membawa sekitar 200 koli bantuan menuju Pelabuhan Lorens Say, Maumere. Bantuan didominasi sembako dan kebutuhan pokok masyarakat terdampak gempa.
Dalam perkembangan berikutnya, KM Tidar tiba di Maumere pada 20 Agustus 2026 dengan membawa 481 koli bantuan kemanusiaan dari sejumlah anak usaha PELNI, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), serta instansi lainnya. Bantuan tersebut diserahkan kepada Koordinator Bidang Logistik BPBD Kabupaten Sikka.
Kolaborasi PELNI dan Pelindo juga diperluas melalui Posko Bersama Bantuan Kemanusiaan di Terminal Nusantara, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Posko tersebut berada di bawah dukungan Kementerian Perhubungan dan dimaksudkan untuk memudahkan instansi maupun lembaga menyalurkan bantuan melalui kapal PELNI.
Di Makassar, layanan serupa juga dibuka PELNI bersama Pelindo. Pengiriman bantuan disebut terbuka untuk umum, sehingga masyarakat, organisasi maupun instansi dapat memanfaatkan fasilitas tersebut tanpa biaya pengangkutan.
Dari sisi pengawasan distribusi, mekanisme administrasi menjadi penting agar bantuan benar-benar bersifat kemanusiaan dan tidak dialihkan untuk kepentingan komersial. Persyaratan dokumen dan daftar barang menjadi instrumen awal untuk memastikan barang yang masuk dalam jaringan distribusi tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
PELNI menyiapkan sejumlah kapal yang melayani rute NTT, antara lain KM Bukit Siguntang, KM Lambelu, KM Tilongkabila, KM Wilis dan KM Awu. Pengiriman berikutnya tetap menyesuaikan jadwal serta pelabuhan singgah masing-masing kapal.
Bagi masyarakat yang hendak mengirim bantuan, skema tersebut membuka akses distribusi laut yang relatif luas di tengah kebutuhan logistik pascabencana. Namun, efektivitas program tetap bergantung pada koordinasi antara pengirim, pengelola pelabuhan, PELNI, Pelindo, otoritas pelabuhan dan pihak penerima di daerah terdampak.
Kebijakan pengiriman gratis ini sekaligus menunjukkan bahwa konektivitas transportasi laut dapat dimanfaatkan untuk mendukung penanganan bencana, terutama bagi wilayah kepulauan seperti NTT yang membutuhkan jalur distribusi antarpulau secara berkelanjutan.
(Red-Garudasatunews)












