SURABAYA, Garudasatunews.id – DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya menggelar refleksi 30 tahun Peristiwa Kudatuli sebagai upaya mengingat kembali salah satu momentum penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), diajak memahami sejarah perjuangan demokrasi agar mampu berperan aktif menjaga nilai-nilai demokrasi di tengah tantangan era digital.
Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya, Armuji, menegaskan demokrasi yang dinikmati masyarakat saat ini tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan pengorbanan berbagai pihak. Karena itu, menurutnya, generasi muda perlu memahami sejarah agar tidak bersikap apatis terhadap kehidupan demokrasi.
“Anak-anak muda jangan hanya menjadi penonton. Jika melihat sesuatu yang dianggap tidak adil, mereka harus mampu menyampaikan aspirasi dan memperjuangkannya melalui cara-cara yang dapat diterima masyarakat,” ujar Armuji saat menyampaikan orasi pada kegiatan refleksi di Kantor DPC PDI Perjuangan Surabaya, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus PAC se-Kota Surabaya, pengurus ranting, kader partai, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya, kalangan akademisi, serta kader muda. Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter mengenai Peristiwa Kudatuli sebagai pengantar diskusi lintas generasi.
Dalam orasinya, Armuji menyampaikan pandangannya bahwa Peristiwa Kudatuli menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan menuju perubahan politik nasional. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari refleksi sejarah yang dibahas dalam forum.
Sementara itu, Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Hotman Siahaan, menilai Peristiwa Kudatuli tidak hanya dapat dipahami sebagai konflik politik, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika pertarungan gagasan yang memengaruhi perkembangan demokrasi di Indonesia.
Menurut Hotman, tantangan demokrasi saat ini mengalami perubahan dibandingkan tiga dekade lalu. Jika pada masa sebelumnya tekanan lebih banyak terjadi melalui mekanisme politik secara langsung, kini ruang informasi dan media digital menjadi arena utama yang membentuk persepsi publik.
“Ruang informasi kini menjadi faktor penting dalam membangun pemahaman masyarakat terhadap berbagai persoalan. Karena itu, demokrasi memerlukan ruang yang terbuka bagi beragam pandangan,” ujarnya.
Dalam forum yang sama, anggota DPRD Surabaya Fraksi PDI Perjuangan, Baktiono, yang turut menceritakan pengalamannya sebagai bagian dari rangkaian sejarah Peristiwa Kudatuli di Surabaya, mengingatkan bahwa kebebasan demokrasi saat ini merupakan hasil perjuangan panjang yang perlu dijaga bersama.
Ia mengajak generasi penerus untuk tidak melupakan sejarah perjuangan tersebut serta menjaga semangat keberanian dan solidaritas dalam kehidupan demokrasi sesuai koridor hukum dan konstitusi.
Pandangan dari kalangan generasi muda disampaikan kader Gen Z PDI Perjuangan, Quinsha. Menurutnya, semangat perjuangan demokrasi tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Ia menilai anak muda memiliki ruang untuk berkontribusi melalui gagasan, kepedulian sosial, serta penyampaian aspirasi secara bertanggung jawab.
Quinsha mengajak generasi muda agar tidak bersikap pasif, melainkan berpartisipasi aktif melalui kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dengan tetap mengedepankan etika, hukum, dan nilai-nilai demokrasi.
Rangkaian refleksi ditutup dengan penyalaan lilin oleh seluruh peserta sebagai simbol penghormatan terhadap para pejuang demokrasi. Simbol tersebut dimaknai sebagai pengingat bahwa demokrasi merupakan hasil perjalanan sejarah yang memerlukan partisipasi seluruh elemen masyarakat untuk terus dijaga dan dikembangkan sesuai prinsip negara hukum dan demokrasi Indonesia.
(Red-Garudasatunews)
















