Warga Sukolilo Sulap Lahan Kosong Jadi Kebun Melon Premium

oleh -25 Dilihat
oleh
Warga Sukolilo Sulap Lahan Kosong Jadi Kebun Melon Premium
Warga Surabaya yang sedang memetik buah melon.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Warga Perumahan Semolowaru Indah, Kecamatan Sukolilo, Surabaya, berhasil mengubah lahan fasilitas umum (fasum) yang sebelumnya tidak produktif menjadi kebun melon premium mandiri. Inovasi berbasis gotong royong tersebut kini menghasilkan hampir 500 buah melon siap panen sekaligus membuka peluang wisata pertanian di tengah kawasan perkotaan.

Kebun tersebut akan diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan “Wisata Petik Buah Kebun Kota Melinda” yang dijadwalkan berlangsung selama sembilan hari, mulai 3 hingga 11 Oktober 2026. Masyarakat umum dapat datang dan memetik langsung melon dari kebun, kemudian membayarnya berdasarkan berat buah yang dipilih.

Ketua RW 07 Semolowaru Indah, Yunus, mengatakan harga melon yang dipetik masyarakat berkisar Rp20 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram. Dalam informasi lain mengenai kegiatan tersebut, harga yang disebutkan mencapai Rp35 ribu per kilogram.

Transformasi lahan itu bermula dari keresahan warga terhadap kondisi fasum yang sebelumnya tidak memberikan manfaat optimal. Area tersebut sempat dipenuhi ilalang dan menjadi lokasi pembuangan sampah sehingga justru menimbulkan persoalan lingkungan serta membutuhkan biaya pemeliharaan.

Warga kemudian menggalang tenaga, gagasan, dan pembiayaan secara gotong royong untuk membangun greenhouse serta sistem budidaya melon. Modal awal pembangunan disebut mencapai sekitar Rp80 juta yang bersumber dari iuran masyarakat. Hasilnya, lahan yang sebelumnya terbengkalai kini mampu menghasilkan lebih dari 500 buah melon premium jenis Sweet Lavender.

Dari sisi ekonomi, perubahan tersebut menunjukkan bahwa lahan terbatas di kawasan perkotaan masih dapat dioptimalkan menjadi sumber produktivitas warga. Kebun tidak hanya menghasilkan komoditas hortikultura bernilai jual, tetapi juga diarahkan menjadi ruang edukasi dan pengalaman wisata bagi masyarakat.

Konsep wisata petik secara langsung juga menciptakan pola penjualan yang lebih dekat antara produsen dan konsumen. Pengunjung dapat melihat proses budidaya sekaligus memperoleh melon yang dipetik dari sumbernya.

Namun, keberlanjutan program tetap bergantung pada kemampuan warga mempertahankan produktivitas lahan, mengelola biaya operasional, menjaga kualitas buah, serta memastikan pemanfaatan fasum tetap tertib dan transparan. Dengan demikian, keberhasilan kebun melon tersebut tidak hanya diukur dari jumlah buah yang dipanen, tetapi juga dari konsistensi pengelolaan dan manfaat ekonomi yang kembali kepada masyarakat.

Jika dikelola berkelanjutan, inisiatif warga Semolowaru Indah dapat menjadi contoh urban farming yang menggabungkan ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan lingkungan, dan wisata edukasi dalam satu kawasan perkotaan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.