BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menekankan pentingnya kompetensi, keterampilan, dan penguasaan bahasa asing bagi calon pekerja maupun peserta pemagangan Indonesia yang hendak bekerja ke Jepang. Kesiapan tersebut dinilai penting agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan sekaligus kehidupan di negara tujuan.
Pesan itu disampaikan Afriansyah saat menghadiri kegiatan Penguatan Sinergitas Pelatihan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banyuwangi, Selasa (22/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan pengarahan kepada peserta Program Magang Nasional (MagangHub) serta peserta program pemagangan ke Jepang melalui kerja sama dengan IM Japan.
“Skill bahasa asing itu penting, khususnya bagi anak-anak yang berminat bekerja di luar negeri, termasuk Jepang,” kata Afriansyah.
Menurut dia, kemampuan bahasa tidak dapat dipisahkan dari kompetensi teknis. Peserta perlu memahami pekerjaan, mampu berkomunikasi di lingkungan kerja, serta beradaptasi dengan budaya dan kehidupan sehari-hari sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
Selain itu, Afriansyah mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan di luar negeri dengan iming-iming penghasilan tinggi. Calon pekerja diminta memastikan perusahaan, jenis pekerjaan, mekanisme penempatan, serta jalur keberangkatan memiliki kejelasan dan sesuai prosedur resmi.
“Jangan sekali-kali bekerja ke luar negeri yang tidak ada kerja sama dengan Pemerintah Indonesia,” tegasnya.
Peringatan tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya minat tenaga kerja Indonesia mencari peluang kerja internasional. Jalur penempatan yang tidak jelas berpotensi menimbulkan persoalan bagi pekerja, sehingga informasi mengenai prosedur resmi dan kesiapan kompetensi menjadi bagian penting sebelum keberangkatan.
Banyuwangi sendiri disebut menjadi salah satu daerah dengan jumlah penempatan pekerja migran yang cukup tinggi, termasuk ke Jepang. Karena itu, keberadaan pelatihan vokasi dinilai strategis untuk memastikan calon pekerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja internasional.
Pada September 2026, BPVP Banyuwangi membuka Pelatihan Vokasi Nasional Tahap 4 dan program Non-Batch yang diikuti 238 peserta dalam 13 program pelatihan. Sebanyak 48 peserta mengikuti tiga program Pelatihan Vokasi Nasional, yakni peracikan minuman kopi, pengolahan ikan, dan pengoperasian mesin CNC bubut.
Sementara itu, 190 peserta mengikuti 10 program Non-Batch yang mencakup pertanian, perhotelan, tata busana, administrasi perkantoran, konten digital, pengolahan makanan, otomotif, hingga pengelasan.
Penguatan hubungan antara lembaga pelatihan dan dunia industri juga dilakukan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan sejumlah mitra strategis dalam program Pelatihan Vokasi Tematik Terintegrasi.
Di sisi lain, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menyebut Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banyuwangi turun dari 4,03 persen menjadi 3,94 persen pada 2025. Namun, ia menegaskan bahwa penurunan angka pengangguran tidak cukup dibaca hanya sebagai indikator keberhasilan penciptaan pekerjaan.
Menurut Mujiono, kualitas pekerjaan, produktivitas, tingkat pendapatan, partisipasi angkatan kerja, serta penduduk usia kerja yang belum aktif dalam pasar kerja juga perlu diperhatikan.
Dengan demikian, tantangan penyiapan calon pekerja ke Jepang bukan sekadar membuka akses keberangkatan. Kompetensi teknis, penguasaan bahasa, pemahaman budaya, serta kepastian jalur penempatan menjadi faktor yang menentukan kesiapan tenaga kerja sebelum memasuki pasar kerja internasional.
*** (Red-Garudasatunews)***
Wamenaker Tekankan Kompetensi dan Bahasa untuk Kerja ke Jepang
BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menekankan pentingnya kompetensi, keterampilan, dan penguasaan bahasa asing bagi calon pekerja maupun peserta pemagangan Indonesia yang hendak bekerja ke Jepang. Kesiapan tersebut dinilai penting agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan sekaligus kehidupan di negara tujuan.
Pesan itu disampaikan Afriansyah saat menghadiri kegiatan Penguatan Sinergitas Pelatihan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banyuwangi, Selasa (22/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan pengarahan kepada peserta Program Magang Nasional (MagangHub) serta peserta program pemagangan ke Jepang melalui kerja sama dengan IM Japan.
“Skill bahasa asing itu penting, khususnya bagi anak-anak yang berminat bekerja di luar negeri, termasuk Jepang,” kata Afriansyah.
Menurut dia, kemampuan bahasa tidak dapat dipisahkan dari kompetensi teknis. Peserta perlu memahami pekerjaan, mampu berkomunikasi di lingkungan kerja, serta beradaptasi dengan budaya dan kehidupan sehari-hari sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
Selain itu, Afriansyah mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan di luar negeri dengan iming-iming penghasilan tinggi. Calon pekerja diminta memastikan perusahaan, jenis pekerjaan, mekanisme penempatan, serta jalur keberangkatan memiliki kejelasan dan sesuai prosedur resmi.
“Jangan sekali-kali bekerja ke luar negeri yang tidak ada kerja sama dengan Pemerintah Indonesia,” tegasnya.
Peringatan tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya minat tenaga kerja Indonesia mencari peluang kerja internasional. Jalur penempatan yang tidak jelas berpotensi menimbulkan persoalan bagi pekerja, sehingga informasi mengenai prosedur resmi dan kesiapan kompetensi menjadi bagian penting sebelum keberangkatan.
Banyuwangi sendiri disebut menjadi salah satu daerah dengan jumlah penempatan pekerja migran yang cukup tinggi, termasuk ke Jepang. Karena itu, keberadaan pelatihan vokasi dinilai strategis untuk memastikan calon pekerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja internasional.
Pada September 2026, BPVP Banyuwangi membuka Pelatihan Vokasi Nasional Tahap 4 dan program Non-Batch yang diikuti 238 peserta dalam 13 program pelatihan. Sebanyak 48 peserta mengikuti tiga program Pelatihan Vokasi Nasional, yakni peracikan minuman kopi, pengolahan ikan, dan pengoperasian mesin CNC bubut.
Sementara itu, 190 peserta mengikuti 10 program Non-Batch yang mencakup pertanian, perhotelan, tata busana, administrasi perkantoran, konten digital, pengolahan makanan, otomotif, hingga pengelasan.
Penguatan hubungan antara lembaga pelatihan dan dunia industri juga dilakukan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan sejumlah mitra strategis dalam program Pelatihan Vokasi Tematik Terintegrasi.
Di sisi lain, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menyebut Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banyuwangi turun dari 4,03 persen menjadi 3,94 persen pada 2025. Namun, ia menegaskan bahwa penurunan angka pengangguran tidak cukup dibaca hanya sebagai indikator keberhasilan penciptaan pekerjaan.
Menurut Mujiono, kualitas pekerjaan, produktivitas, tingkat pendapatan, partisipasi angkatan kerja, serta penduduk usia kerja yang belum aktif dalam pasar kerja juga perlu diperhatikan.
Dengan demikian, tantangan penyiapan calon pekerja ke Jepang bukan sekadar membuka akses keberangkatan. Kompetensi teknis, penguasaan bahasa, pemahaman budaya, serta kepastian jalur penempatan menjadi faktor yang menentukan kesiapan tenaga kerja sebelum memasuki pasar kerja internasional.
(Red-Garudasatunews)












