JOMBANG, Garudasatunews.id – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, arah kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang menjadi sorotan. Keluarga pendiri NU mengingatkan pentingnya menghadirkan figur pemimpin yang meneladani karakter para ulama pendiri organisasi tersebut.
Pesan itu disampaikan Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, putri KH Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, dalam kegiatan Bedah Buku dan Talkshow yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) di Aula MAN 3 Jombang, Sabtu (8/8/2026).
Dalam forum yang menjadi bagian dari rangkaian menyongsong Muktamar ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026 tersebut, Nyai Hizbiyah menekankan bahwa kepemimpinan PBNU ke depan perlu meneladani nilai dan karakter yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri.
“Kepemimpinan PBNU harus mencontoh Kiai Hasyim, Kiai Wahab dan Kiai Bisri,” ujar Nyai Hj. Hizbiyah di hadapan peserta talkshow.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam tema diskusi “Khittah NU, Kiai, dan Pesantren: Merawat dan Moderasi, Menjaga NKRI”. Dalam pandangannya, warga NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menghadirkan keteduhan, perlindungan, serta keteladanan di tengah dinamika organisasi dan tantangan sosial yang terus berkembang.
Dari sudut pandang organisasi, pesan tersebut menjadi perhatian karena disampaikan menjelang forum tertinggi NU yang akan menentukan arah kepemimpinan dan kebijakan strategis organisasi lima tahun ke depan. Nilai-nilai kepemimpinan para pendiri dinilai masih relevan sebagai pijakan dalam menjaga konsolidasi jam’iyah dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam forum yang sama, mantan Bupati Tuban dua periode, H. Fathul Huda, turut mengajak kalangan santri dan warga NU untuk meneladani perjuangan serta karakter KH Wahab Chasbullah.
Menurutnya, Mbah Wahab merupakan sosok ulama dengan kapasitas kepemimpinan yang lengkap, mulai dari kecerdasan, energi perjuangan, hingga keberanian dalam mengambil keputusan pada berbagai situasi.
“Al-Mar’u Ma’a Man Ahabba (seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai), dan apa yang dilakukan Mbah Wahab itu sudah komplit, baik kecerdasan beliau, enerjik dan pemberani mengambil sikap, itu yang harus kita copy paste sebagai santri,” kata H. Fathul Huda.
Selain membahas keteladanan tokoh pendiri NU, kegiatan tersebut juga menyoroti arah strategis organisasi di masa depan. Prof. Dr. Drs. HM. Zainuddin, BA., M.A., penulis buku Khittah NU, Kiai, dan Pesantren: Merawat dan Moderasi, Menjaga NKRI sekaligus Rektor UIN Malang periode 2021–2025, memaparkan tantangan NU di era global.
Ia menilai perlunya perumusan langkah strategis yang terukur untuk menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta transformasi peran kiai dalam kehidupan masyarakat.
“Maka perlu dirumuskan hal-hal yang menyangkut NU ke depan, yaitu bagaimana mempersiapkan pemimpin NU pada Muktamar mendatang, dan bagaimana merancang program 5 tahunan ke depan (road map),” ujar Prof. Zainuddin.
Dari perspektif penguatan kelembagaan, gagasan penyusunan peta jalan lima tahunan tersebut dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan program NU pasca-Muktamar. Forum bedah buku menjadi ruang diskusi bagi kalangan akademisi, pesantren, dan alumni untuk memberikan masukan terhadap arah organisasi ke depan.
Kegiatan ini merupakan inisiatif para alumni Bahrul Ulum yang kini berkiprah sebagai pengasuh pondok pesantren, akademisi, guru besar, dan praktisi. Kehadiran mereka menjadi bagian dari dukungan terhadap suksesnya penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di Jombang.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum Yayasan PPBU KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozaq), Ketua Majelis Pengasuh PPBU KH Hasib Wahab Hasbullah, Kepala MAN 3 Jombang H. Sutrisno, Ketua Panitia Evi Fatimatur Rusydiyah, serta H. Nur Ali selaku pemantik bedah buku yang juga Ketua Ikatan Alumni MAN 3 Jombang PPBU Tambakberas dan Ketua Senat UIN Malang.
(Red-Garudasatunews)
















