MAKKAH, Garudasatunews.id – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memperkuat sistem pengawasan dan layanan digital melalui platform Kawal Haji serta Command Center Haji 2026 di tengah membludaknya arus kedatangan jemaah Indonesia ke Arab Saudi. Hingga Selasa (12/5/2026), tercatat sebanyak 138.879 jemaah telah diberangkatkan ke Tanah Suci.
Langkah digitalisasi tersebut diklaim sebagai upaya mempercepat respons penanganan aduan, pengawasan layanan, hingga perlindungan jemaah di lapangan. Namun, peningkatan jumlah jemaah yang terus bergerak menuju Makkah juga memunculkan tantangan besar terhadap efektivitas pengawasan dan kesiapan layanan dasar.
Memasuki hari ke-22 operasional haji, sebanyak 359 kelompok terbang (kloter) telah diberangkatkan. Dari jumlah itu, sekitar 105.360 jemaah kini terkonsentrasi di Kota Makkah usai menjalani perjalanan dari Madinah.
Wartawan beritajatim.com yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI, Muhammad Isnan, melaporkan dari Arab Saudi bahwa integrasi sistem digital menjadi instrumen utama dalam mengendalikan pergerakan jemaah dalam skala besar.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menyatakan platform Kawal Haji dirancang agar setiap laporan jemaah dapat segera diterima dan diteruskan kepada petugas sesuai kewenangan masing-masing.
“Melalui Kawal Haji, setiap laporan yang masuk dapat dipantau, diteruskan, dan ditindaklanjuti lebih cepat sesuai kewenangan petugas di lapangan. Ini adalah bentuk komitmen kami agar setiap suara jemaah dapat segera ditangani,” ujar Maria dalam keterangan resminya.
Selain aplikasi pengaduan berbasis digital, Kemenhaj juga mengoperasikan Command Center Haji 2026 sebagai pusat kendali utama. Sistem ini memantau distribusi bus shalawat, layanan katering, kepadatan sektor pemondokan, hingga ketersediaan tempat tidur di klinik kesehatan satelit secara real time.
Penguatan pengawasan berbasis data tersebut dilakukan seiring meningkatnya kepadatan jemaah di sejumlah kawasan padat di Makkah, seperti Misfalah dan Mahbas Jin. Kondisi itu dinilai rawan memicu keterlambatan layanan apabila tidak diantisipasi dengan sistem respons cepat yang terintegrasi.
Sementara itu, tantangan lain muncul dari faktor cuaca ekstrem. Kemenhaj mencatat sebanyak 32.009 jemaah Gelombang Kedua telah tiba melalui Jeddah, ditambah 6.018 jemaah haji khusus yang kini berada di Arab Saudi. Seluruh jemaah menghadapi suhu panas ekstrem berkisar 38 hingga 42 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan rendah.
Kondisi tersebut memicu kewaspadaan tinggi dari tim kesehatan haji. Kemenhaj meminta jemaah tidak memaksakan aktivitas ibadah sunnah berlebihan dan lebih memprioritaskan kondisi fisik menjelang puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Sesuai rekomendasi kesehatan, jemaah diwajibkan mengonsumsi air sedikitnya 200 mililiter per jam serta tambahan elektrolit guna menghindari risiko dehidrasi akut dan gangguan kesehatan akibat suhu panas.
“Fase puncak haji membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan spiritual. Kami mengimbau jemaah untuk mengutamakan ibadah wajib, memperbanyak istirahat, menjaga pola makan, cukup minum, dan segera melapor jika mengalami kendala layanan,” tegas Maria.
Kemenhaj memastikan seluruh petugas haji, termasuk tim perlindungan dan tenaga kesehatan, disiagakan selama 24 jam penuh untuk mendampingi jemaah dengan dukungan instrumen digital yang telah diintegrasikan selama operasional haji berlangsung.
(Red-Garudasatunews)














