PAMEKASAN, Garudasatunews.id – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar dalam tiga hari terakhir berdampak langsung terhadap aktivitas nelayan di Kabupaten Pamekasan. Keterbatasan pasokan membuat banyak nelayan tidak dapat melaut karena kehabisan bahan bakar untuk mengoperasikan perahu.
Kondisi tersebut memicu keluhan para nelayan yang kemudian menyampaikan aspirasi ke Gedung DPRD Pamekasan, Jalan Kabupaten Nomor 107, Rabu (1/7/2026). Mereka meminta pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret agar distribusi solar bersubsidi kembali normal.
Nelayan asal Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Rico Hendriyo, mengungkapkan pasokan solar bagi nelayan praktis terhenti sejak Senin (29/6/2026). Menurutnya, nelayan tidak lagi dapat mengisi solar menggunakan jeriken di SPBU Asem Manis setelah adanya arahan yang disebut berasal dari pihak kepolisian.
“Biasanya kami masih bisa mendapatkan solar meski jumlahnya terbatas. Namun sekarang sama sekali tidak. Pihak SPBU tidak memperbolehkan nelayan mengisi jeriken atas saran dari kepolisian,” ujar Rico.
Rico menjelaskan, para nelayan sebenarnya telah membawa surat rekomendasi dari Dinas Perikanan sebagai syarat memperoleh BBM bersubsidi. Namun, dokumen tersebut disebut tidak dapat digunakan untuk melakukan pengisian solar di SPBU.
“Bahkan ada nelayan yang datang sendiri dengan membawa surat rekomendasi, tetapi tetap tidak mendapatkan solar,” katanya.
Akibat kondisi tersebut, aktivitas penangkapan ikan terpaksa dihentikan sementara karena tidak tersedianya bahan bakar. Para nelayan khawatir situasi itu akan berdampak pada pendapatan keluarga apabila kelangkaan terus berlangsung.
Para nelayan berharap pemerintah daerah, aparat terkait, serta pihak pengelola SPBU dapat segera menemukan solusi agar penyaluran solar bersubsidi kembali berjalan sesuai ketentuan dan kebutuhan nelayan dapat terpenuhi.
Kelangkaan solar juga dirasakan masyarakat di sektor lain. Dalam beberapa hari terakhir, antrean kendaraan roda dua, mobil pribadi, hingga truk tampak mengular di sejumlah SPBU di wilayah Pamekasan. Bahkan, antrean kendaraan dilaporkan meluber hingga ke badan jalan.
Sementara itu, salah seorang petugas SPBU di Pamekasan menjelaskan antrean panjang terjadi akibat kuota Biosolar yang diterima setiap hari masih terbatas. Di sisi lain, tingginya permintaan masyarakat dinilai tidak sebanding dengan pasokan yang tersedia. Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun instansi berwenang terkait kebijakan pengisian solar menggunakan jeriken yang dikeluhkan para nelayan.
(Red-Garudasatunews)














