Siswa Dorong Refill Air, Tekan Mikroplastik Sekolah

oleh -27 Dilihat
oleh
Siswa Dorong Refill Air, Tekan Mikroplastik Sekolah
Krishna Wahyu Sahaja, Siswa kelas 10 SMAN 1 Driyorejo (memakai jas hitam paling kanan) setelah memberikan policy brief persepsi Gen Z Dalam penggunaan plastik sekali pakai kepada Wakil Bupati Bondowoso, koordinator Ashoka, koordinator DOE dan Ketua JAYCA 2026. (Istimewa)
banner 468x60

BONDOWOSO, Garudasatunews.id – Ratusan pelajar Jawa Timur yang tergabung dalam program Jawa Timur Young Changemaker Academy (JAYCA) dan The Duke of Edinburgh’s International Award (DOE) 2026 mendorong perubahan kebijakan berbasis riset, termasuk isu lingkungan yang selama ini dinilai luput dari perhatian serius. Salah satu sorotan muncul dari siswa SMAN 1 Driyorejo yang mengusulkan penyediaan fasilitas air minum isi ulang di sekolah guna menekan paparan mikroplastik.

Program yang berlangsung selama enam bulan itu menghasilkan 66 peserta lolos kualifikasi dari total lebih dari 150 pelajar. Mereka menjalankan riset terkait mikroplastik, survei perilaku Generasi Z, hingga kampanye pengurangan plastik sekali pakai. Hasil riset tersebut tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi dibawa langsung ke ruang pengambil kebijakan.

Tiga siswa SMAN 1 Driyorejo bahkan melakukan audiensi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, pimpinan DPRD, serta perwakilan Fraksi PKB. Langkah ini mengindikasikan adanya dorongan advokasi berbasis data dari kalangan pelajar terhadap pemerintah daerah, terutama dalam isu pengelolaan sampah plastik.

Salah satu rekomendasi utama yang diajukan adalah penyediaan fasilitas refill air minum di sekolah. Usulan ini didasarkan pada temuan meningkatnya penggunaan plastik sekali pakai yang berpotensi memicu kontaminasi mikroplastik, baik di lingkungan maupun dalam tubuh manusia.

“Sekolah harus menyediakan fasilitas isi ulang air minum agar siswa tidak bergantung pada botol plastik sekali pakai,” ujar Krisna, salah satu peserta program. Pernyataan tersebut mempertegas adanya kesadaran lingkungan di kalangan pelajar yang berbanding lurus dengan tuntutan perubahan kebijakan.

Selain usulan tersebut, para siswa juga menyusun policy brief yang memuat data timbulan sampah, hasil survei masyarakat, serta rekomendasi integrasi kurikulum berbasis lingkungan. Dokumen ini telah diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan kebijakan, sekaligus menjadi indikator bahwa pelajar mulai masuk dalam ekosistem advokasi publik.

Sejumlah pihak memberikan apresiasi terhadap inisiatif ini. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan terkait sejauh mana pemerintah daerah akan menindaklanjuti rekomendasi tersebut, mengingat persoalan sampah plastik dan mikroplastik selama ini belum tertangani secara sistemik.

Penganugerahan JAYCA dan DOE 2026 di Pendopo Kabupaten Bondowoso menjadi penanda bahwa pelajar tidak lagi sekadar objek pendidikan, tetapi mulai berperan sebagai aktor perubahan. Dorongan kebijakan dari generasi muda ini membuka ruang evaluasi terhadap komitmen pemerintah dalam menangani krisis lingkungan, khususnya di sektor pendidikan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.