
SURABAYA, Garudasatunews.id – Sejumlah seniman Kota Surabaya menggelar aksi satire di Taman Apsari, Jalan Gubernur Suryo, Selasa (10/2/2026), sebagai bentuk keprihatinan atas meninggalnya seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang mengakhiri hidup karena orang tuanya tidak mampu membeli pena dan buku seharga Rp10 ribu.
Dalam aksi tersebut, para seniman mengenakan seragam sekolah dasar merah putih dan membawa tandu troli ambulans yang dipenuhi ratusan buku tulis serta pena. Mereka juga mengibarkan bendera hitam putih sebagai simbol duka dan kritik sosial.
Buku dan pena tersebut dibagikan kepada masyarakat serta siswa-siswi SDN Kaliasin I yang melintas di sekitar Taman Apsari usai pulang sekolah. Para seniman juga menyampaikan pesan agar anak-anak tetap semangat belajar dan para orang tua lebih memperhatikan kebutuhan pendidikan anak.
Salah satu seniman, Kusnan, menyebut peristiwa meninggalnya siswa SD di Ngada sebagai ironi dan kegagalan moral bangsa dalam menjamin hak pendidikan anak. Ia menilai negara lalai dalam memastikan kebutuhan dasar pendidikan dapat diakses seluruh warga.
Kusnan menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk gugatan kepada pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar kejadian serupa tidak terulang, baik di Surabaya, Jawa Timur, maupun daerah lain di Indonesia.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, khususnya terhadap kondisi anak-anak dan keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi.
Menurut Kusnan, ratusan buku dan pena yang dibagikan merupakan hasil solidaritas dan penggalangan dana warga serta pegiat seni di Surabaya sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan. (Red-Garudasatunews)











