Santri Korban Pencabulan di Bangkalan Hilang Dua Pekan

oleh -359 Dilihat
Santri Korban Pencabulan di Bangkalan Hilang Dua Pekan
Ilustrasi korban percabulan.
banner 468x60

BANGKALAN, Garudasatunews.id — Hilangnya seorang santri perempuan korban dugaan pencabulan di Pondok Pesantren Nurul Karomah, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, kian memunculkan tanda tanya besar. Sudah dua pekan berlalu sejak korban dinyatakan hilang, namun keberadaannya hingga kini belum terungkap.

Keluarga korban menduga kuat hilangnya santri tersebut berkaitan erat dengan laporan dugaan pencabulan yang menyeret dua anak kiai pengasuh pesantren. Dugaan itu menguat lantaran korban menghilang tak lama setelah keluarga melaporkan salah satu terduga pelaku berinisial S ke Polda Jawa Timur.

Fitriyah, bibi korban, mengungkapkan sejak laporan polisi dilayangkan, pihak pesantren justru berulang kali mendatangi keluarga dengan maksud melamar korban.
“Setelah S dilaporkan, pihak ponpes datang terus ingin melamar. Sudah lima kali datang, tapi selalu kami tolak,” ujar Fitriyah, Rabu (21/1/2026).

Ia menilai desakan lamaran tersebut mencurigakan dan diduga sebagai upaya untuk meredam proses hukum yang tengah berjalan. Kecurigaan keluarga semakin menguat karena sesaat sebelum korban menghilang, dua santri lain mendatangi korban dan mengaku diutus oleh S.

Fakta lain yang terungkap, korban dugaan pencabulan diduga tidak hanya satu orang. Keluarga mengaku telah menemui sedikitnya lima korban lain, namun mayoritas memilih bungkam karena takut dan enggan melapor ke aparat penegak hukum.

“Ada banyak korban, tapi orang tuanya takut atau tidak mau melapor,” ungkap Fitriyah.

Korban yang kini hilang disebut sebagai saksi kunci yang mengetahui rangkaian dugaan kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Hilangnya korban dinilai berpotensi menghambat pengungkapan kasus secara menyeluruh.

Kecurigaan keluarga kian memuncak setelah mendapati kamera pengawas (CCTV) di sekitar rumah korban tidak merekam peristiwa saat korban pergi.
“CCTV yang biasanya aktif justru tidak merekam di jam keponakan saya hilang. Ini sangat janggal dan kami menduga ada unsur kesengajaan,” tegasnya.

Korban diketahui menghilang pada Rabu (7/1/2026) dini hari, hanya beberapa hari setelah laporan terhadap S masuk ke Polda Jatim. Sebelumnya, keluarga juga telah melaporkan terduga pelaku lain berinisial UF, kakak S, yang juga anak kiai pengasuh pesantren.

Dalam proses penyelidikan, polisi menemukan indikasi bahwa korban diduga mengalami pencabulan oleh lebih dari satu pelaku, sehingga laporan terhadap S dibuat dalam berkas terpisah.

Kini, keluarga korban hanya berharap santri tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat. Tekanan psikologis akibat peristiwa ini disebut berdampak serius pada kondisi keluarga. Orang tua dan nenek korban dilaporkan jatuh sakit karena terus memikirkan nasib korban yang belum diketahui hingga kini.

“Kami hanya ingin dia ditemukan dengan selamat. Orang tuanya sakit, neneknya juga drop,” pungkas Fitriyah.(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.