Said Abdullah: NU Jangan Terseret Politik

oleh -20 Dilihat
oleh
Said Abdullah NU Jangan Terseret Politik
Ketua DPD PDIP Jatim Said Abdullah
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, diharapkan menjadi momentum memperkuat jati diri NU sebagai kekuatan moral dan kultural Islam Indonesia.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, MH Said Abdullah, menilai kekuatan NU selama lebih dari satu abad tidak lepas dari peran para kiai dan komunitas pesantren sebagai subkultur. Menurutnya, tradisi keislaman yang berlandaskan Asy’ariyah, toleransi, keindonesiaan dan kearifan lokal menjadi modal sosial penting yang membuat NU terus bertahan dan berkembang.

Namun, Said mengingatkan agar modal sosial tersebut tidak terkikis oleh kepentingan politik. Ia menilai suksesi kepemimpinan NU tidak semestinya mengikuti pola pergantian kekuasaan politik yang pragmatis dan transaksional.

“NU jangan sampai tergoda masuk terlalu jauh dalam hingar-bingar politik,” demikian pokok pandangan Said terkait arah Muktamar ke-35. Ia berharap proses pergantian kepemimpinan tetap berpijak pada keteladanan moral dan spiritual yang menjadi bagian dari sejarah berdirinya NU.

Said juga menempatkan NU sebagai salah satu wajah Islam Indonesia yang mendapat perhatian dunia. Menurutnya, kemampuan NU menghadirkan Islam moderat, memupuk nilai demokrasi serta menjaga hubungan antara nilai keislaman dan keindonesiaan merupakan kekuatan yang perlu dipertahankan.

Jangan Habiskan Muktamar untuk Perebutan Jabatan

Di tengah agenda suksesi, Said meminta peserta Muktamar tidak menghabiskan energi hanya untuk perebutan posisi kepemimpinan. Ia menilai persoalan yang dihadapi masyarakat jauh lebih mendesak, mulai dari kemiskinan, pengangguran, krisis pertanian, persoalan lingkungan, dampak konflik global terhadap perekonomian hingga kemunduran demokrasi.

Menurut Said, tantangan tersebut semestinya menjadi bagian penting dari agenda keumatan NU. Organisasi yang tumbuh dari lingkungan pesantren dan masyarakat desa dinilai memiliki basis sosial yang kuat untuk memberikan jawaban atas persoalan masyarakat secara lebih luas.

Kekuatan itu, lanjutnya, juga ditopang tradisi intelektual NU dan keberadaan ratusan ribu sarjana NU yang menimba ilmu di berbagai penjuru dunia. Karena itu, NU dinilai tidak lagi sebatas kekuatan subkultur, tetapi telah berkembang menjadi kekuatan diasporik yang memiliki potensi berkontribusi terhadap persoalan peradaban.

Said mendorong hasil Bahtsul Masail lebih dikedepankan sebagai produk pemikiran ulama dan intelektual NU. Forum tersebut dinilai dapat menjadi instrumen untuk menunjukkan kemampuan keilmuan dan keislaman NU dalam menjawab tantangan zaman.

Ia juga mengajak NU belajar dari sejarah kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah, ketika perkembangan ilmu pengetahuan di berbagai bidang menjadi salah satu kekuatan utama peradaban. Menurutnya, kebesaran NU ke depan akan semakin bermakna apabila tetap berada di jalur keumatan dan memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan masyarakat.

Dengan demikian, Muktamar ke-35 NU bukan sekadar momentum menentukan kepemimpinan organisasi, tetapi juga ujian untuk menjaga karakter moral, spiritual, sosial dan intelektual NU di tengah tekanan kepentingan politik dan berbagai persoalan masyarakat.

Said berharap NU tetap teguh pada keteladanan moral, spiritual dan sosial serta mampu menjadi kekuatan yang menawarkan jalan keluar bagi umat dan bangsa.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.