Sahur Keliling Nyai Sinta Soroti Demokrasi dan Persatuan

oleh -326 Dilihat
oleh
Sahur Keliling Nyai Sinta Soroti Demokrasi dan Persatuan
Nyai Sinta Nuriyah Wahid saat sahur keliling di Pondok Seblak Jombang, Minggu (1/3/2026)
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Kegiatan sahur keliling yang digelar Nyai Sinta Nuriyah Wahid di Pondok Al-Khoiriyah Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu dini hari (1/3/2026), tidak sekadar menjadi agenda keagamaan, tetapi juga memuat pesan sosial dan kritik moral terhadap situasi kebangsaan yang dinilai semakin rapuh.

Acara bertema Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi itu dihadiri sekitar 300 peserta dari unsur pejabat pemerintah, warga, santri, kaum marjinal, serta perwakilan lintas iman. Kehadiran berbagai kelompok ini mencerminkan upaya merawat ruang kebersamaan di tengah meningkatnya polarisasi sosial.

Kegiatan merupakan kolaborasi Puan Amal Hayati Jakarta dan Gusdurian Jombang, dengan rangkaian acara yang memadukan seni budaya dan religiusitas, mulai dari penampilan barongsai Anakonda Jombang, sanggar tari Wilwatikta, hingga hadrah Qolbu Qur’an dari santri Pondok Seblak. Susunan acara diawali dengan lagu Indonesia Raya dan Mars Syubanul Wathan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Alquran oleh siswi tunanetra dari SLB Muhammadiyah Jombang.

Ketua Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak, Hj Rika Fauziyah Andarini, menegaskan bahwa lokasi kegiatan memiliki kedekatan historis dengan keluarga Gus Dur. Menurutnya, almarhum pernah mengajar bahasa Arab di madrasah setempat, sehingga hubungan emosional tersebut menjadi alasan kuat dipilihnya Pondok Seblak sebagai titik kegiatan.

Dalam sambutannya, Nyai Sinta mengungkapkan bahwa tradisi sahur keliling telah dijalankannya selama 26 tahun, sejak masa mendampingi Gus Dur menjabat presiden. Ia menuturkan kegiatan itu konsisten dilakukan bersama kelompok masyarakat kecil, mulai dari buruh bangunan, pedagang pasar, hingga warga yang hidup di ruang-ruang marginal perkotaan.

Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman Indonesia. Ia mengingatkan bahwa perbedaan suku, agama, dan pilihan politik tidak boleh menjadi alasan konflik sosial yang justru melemahkan bangsa.

Nyai Sinta juga menyinggung peran elite politik dan lembaga legislatif agar tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat pemecah belah. Jabatan publik, menurutnya, harus diarahkan untuk memperkuat persatuan dan menjawab persoalan rakyat, bukan memperdalam jurang perbedaan.

Kegiatan ditutup dengan salat Subuh berjamaah yang dipimpin Kepala Kemenag Jombang, H Muhajir, sekaligus mengakhiri rangkaian sahur keliling yang sarat pesan moral, sosial, dan kebangsaan di tengah dinamika demokrasi yang terus diuji. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.