Rooftop Rumah di Lamongan Hasilkan 2,5 Kuintal Melon

oleh -29 Dilihat
oleh
Rooftop Rumah di Lamongan Hasilkan 2,5 Kuintal Melon
Iskandar merawat tanaman melon yang dibudidaya di atas atap rumahnya, di Desa Deketkulon, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan.
banner 468x60

LAMONGAN, Garudasatunews.id – Keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang bagi Iskandar, warga Desa Deketkulon, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, untuk mengembangkan pertanian produktif. Dengan memanfaatkan area rooftop rumah berukuran sekitar 13 x 8 meter, ia berhasil menyulap ruang kosong menjadi kebun melon hidroponik yang mampu menghasilkan panen mencapai 2,5 kuintal dalam satu musim.

Langkah inovatif tersebut menjadi bukti bahwa pemanfaatan lahan terbatas dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat dapat menciptakan nilai ekonomi baru di sektor pertanian perkotaan maupun lingkungan permukiman.

Sebelum mengembangkan kebun di atas rumah, Iskandar lebih dahulu membudidayakan melon di dalam greenhouse. Namun, keberadaan rooftop yang belum dimanfaatkan mendorongnya untuk melakukan percobaan budidaya melon di ruang terbuka.

“Kami sebenarnya sudah menanam di greenhouse. Karena ada rooftop yang kosong dan belum digunakan untuk pengembangan bangunan rumah, maka ruang tersebut kami manfaatkan untuk menanam melon,” ujar Iskandar, Senin (22/6/2026).

Pada musim tanam pertama, Iskandar mencoba menanam melon premium varietas Adinda produksi Tunas Agro. Namun, hasil yang diperoleh belum maksimal karena pengaruh kondisi cuaca terbuka dan serangan hama.

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, Iskandar kemudian beralih menanam sejumlah varietas melon lokal seperti Gracia, New Cheria, dan Nobel yang dinilai memiliki daya tahan lebih baik terhadap kondisi lingkungan rooftop. Jenis melon tersebut juga memiliki masa panen relatif singkat, yakni sekitar 60 hingga 65 hari.

Hasil perubahan strategi budidaya tersebut mulai terlihat melalui capaian panen yang mencapai sekitar 2,5 kuintal dalam satu periode panen. Meski demikian, faktor cuaca, terutama curah hujan dengan intensitas tinggi, masih menjadi tantangan utama bagi keberhasilan budidaya melon di area terbuka.

“Kemarin kami bisa mendapatkan hasil sekitar 2,5 kuintal. Namun saat musim hujan, kondisi rooftop memang kurang mendukung, terutama untuk melon jenis premium. Tantangan terbesarnya adalah faktor hujan,” katanya.

Ketertarikan Iskandar terhadap dunia pertanian berawal dari keterlibatannya dalam program ketahanan pangan desa. Berbekal pendampingan dasar dari program tersebut, ia kemudian memperdalam pengetahuan mengenai teknik budidaya modern secara mandiri melalui berbagai platform digital.

Dalam praktiknya, Iskandar menerapkan sistem penyiraman menggunakan selang drip dengan metode fertigasi tetes yang dipelajari secara otodidak.

“Sistem penyiraman kami menggunakan selang drip dengan metode fertigasi tetes. Untuk teknologi dan penerapannya, saya mempelajarinya secara mandiri melalui YouTube,” ungkapnya.

Iskandar berharap pemanfaatan rooftop rumah sebagai lahan pertanian alternatif dapat menjadi contoh bagi masyarakat, terutama generasi muda, agar lebih kreatif dalam mengembangkan urban farming meskipun memiliki keterbatasan lahan.

“Harapannya, inovasi ini dapat menginspirasi masyarakat, khususnya anak muda, untuk terus berkreasi dan memanfaatkan lahan yang tersedia menjadi area produktif untuk bercocok tanam,” pungkasnya.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.