Ribuan Warga Surabaya Padati Pentas Niken Salindry

oleh -25 Dilihat
oleh
Ribuan Warga Surabaya Padati Pentas Niken Salindry
Pergelaran seni campursari yang dimeriahkan oleh grup Mayangkara dan penyanyi Niken Salindry di Kawanan Gunung Sari Indah, Surabaya pada Sabtu (17/10/2026).
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Ribuan warga memadati kawasan Perumahan Gunungsari Indah, Surabaya, pada Sabtu malam (17/10/2026), untuk menyaksikan pagelaran seni campursari yang menghadirkan penyanyi Niken Salindry bersama grup Mayangkara. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong ruang publik dan fasilitas umum (fasum) sebagai wadah pelestarian budaya sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.

Pagelaran yang melibatkan sinergi DPRD Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga diisi kegiatan sosial berupa santunan anak yatim, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta doa bersama.

Antusiasme masyarakat yang hadir dari berbagai daerah menunjukkan bahwa seni tradisional masih memiliki daya tarik di tengah perkembangan hiburan modern. Kehadiran warga dari berbagai latar belakang juga memperlihatkan potensi kegiatan budaya sebagai ruang interaksi sosial dan penguatan persatuan.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menilai pagelaran seni semacam ini bukan sekadar pertunjukan untuk menghibur masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan salah satu cara untuk menjaga kelestarian budaya lokal Jawa Timur, termasuk kearifan lokal Surabaya.

Ia mengapresiasi masyarakat yang datang dari berbagai wilayah, di antaranya Surabaya dan sejumlah daerah lain di Jawa Timur. Keberagaman pengunjung, menurutnya, menjadi gambaran bahwa seni dan budaya dapat mempertemukan masyarakat dalam suasana guyub dan penuh kebersamaan.

Fasum Berpotensi Menjadi Ruang Budaya

Pemanfaatan fasilitas umum sebagai ruang kegiatan budaya menjadi salah satu aspek yang patut diperhatikan. Ruang publik yang digunakan untuk kegiatan seni berpotensi memperluas akses masyarakat terhadap kebudayaan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM di sekitar lokasi.

Namun, keberlanjutan pemanfaatan fasum sebagai ruang budaya juga membutuhkan perencanaan yang baik. Aspek ketertiban, keamanan, kebersihan, aksesibilitas, serta kepentingan warga sekitar perlu diperhatikan agar kegiatan serupa dapat berlangsung tanpa mengurangi fungsi utama fasilitas umum.

Selain itu, keterlibatan pelaku UMKM perlu menjadi bagian dari upaya agar kegiatan budaya tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi turut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Pelestarian Budaya Membutuhkan Keberlanjutan

Pentas campursari yang menghadirkan Niken Salindry menjadi momentum untuk memperkenalkan seni tradisional kepada berbagai kelompok usia. Agar dampaknya berkelanjutan, kegiatan semacam ini perlu didukung ruang tampil yang memadai, keterlibatan komunitas seni, serta kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal dan mempelajari kebudayaan daerah.

Sinergi pemerintah daerah, DPRD, komunitas, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga agar seni tradisional tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Meski demikian, dampak kegiatan terhadap perkembangan UMKM dan keberlanjutan pemanfaatan fasum memerlukan evaluasi tersendiri. Data mengenai jumlah pelaku usaha yang terlibat, manfaat ekonomi yang diperoleh, serta rencana kegiatan lanjutan akan membantu mengukur hasil program secara lebih objektif.

Dengan demikian, pagelaran budaya di Gunungsari Indah tidak hanya menjadi hiburan bagi ribuan warga, tetapi juga membuka ruang pembahasan mengenai pentingnya fasilitas umum sebagai tempat interaksi sosial, pelestarian tradisi, dan penguatan ekonomi masyarakat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.