PWNU-PCNU Soroti Integritas Kepemimpinan PBNU

oleh -21 Dilihat
oleh
PWNU-PCNU Soroti Integritas Kepemimpinan PBNU
KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Agustus 2026, aspirasi mengenai perlunya kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang lebih teduh, solid, berintegritas, dan transparan mengemuka dari sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di berbagai daerah.

Aspirasi tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, berdasarkan hasil silaturahmi dan komunikasi yang dilakukannya dengan jajaran PWNU dan PCNU di sejumlah wilayah Indonesia, meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Nusa Tenggara Timur.

Menurut Gus Salam, mayoritas pengurus di tingkat wilayah dan cabang menginginkan kepemimpinan organisasi yang mampu menghadirkan keteduhan serta menjadi teladan dalam menjaga soliditas dan integritas kelembagaan.

“Mereka merindukan kepemimpinan yang penuh dengan keteduhan, soliditas, integritas dan transparan. Itu yang saya temukan dari silaturahim beberapa waktu ini,” ujar Gus Salam saat ditemui di kediamannya di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, Rabu (10/6/2026).

Ia menilai, munculnya aspirasi tersebut tidak terlepas dari dinamika dan konflik yang terjadi di tingkat PBNU dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, persoalan internal di tingkat pusat dinilai telah memberikan dampak terhadap jalannya roda organisasi di daerah.

Gus Salam mengungkapkan, sejumlah agenda organisasi dan proses administrasi, termasuk penerbitan surat keputusan (SK) di beberapa PWNU maupun PCNU, disebut terdampak oleh situasi yang berkembang di tingkat pusat.

“Konflik itu juga memberikan efek nyata di jajaran struktur PWNU maupun PCNU dengan terbelengkainya SK-SK di PWNU dan PCNU maupun agenda-agenda organisasi. Ke depan mereka menginginkan PBNU memiliki teladan dalam keteduhan, soliditas dan integritas,” katanya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sorotan terhadap pentingnya tata kelola organisasi yang akuntabel dan transparan di tubuh PBNU menjelang forum tertinggi NU yang akan menentukan arah kepemimpinan organisasi lima tahun ke depan.

Selain menyerap aspirasi dari daerah, Gus Salam mengaku menerima berbagai respons positif terkait kemungkinan dirinya maju dalam kontestasi pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 mendatang. Namun demikian, ia menegaskan bahwa seluruh pemegang hak suara tetap memiliki kewenangan penuh untuk menilai dan menentukan figur yang dianggap paling layak memimpin organisasi.

“Mereka fungsionaris PWNU dan PCNU punya kesempatan untuk menganalisa dan memahami gaya kepemimpinan, sikap dan karakter kader masing-masing sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan pilihan yang paling layak untuk memimpin NU ke depan,” ujarnya.

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Hingga saat ini lokasi penyelenggaraan belum ditetapkan. Sebelum pelaksanaan muktamar, NU dijadwalkan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, pada 20–21 Juni 2026.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.