Pompa Irigasi Diduga Bikin Puluhan Sumur Warga Guwo Mengering

oleh -30 Dilihat
oleh
Pompa Irigasi Diduga Bikin Puluhan Sumur Warga Guwo Mengering
Warga Dusun Guwo Desa Latsari mencuci pakaian di saluran irigasi, Selasa (6/10/2026)
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Puluhan sumur warga Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, mengalami penurunan debit hingga mengering. Kondisi ini membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih dan terpaksa mengambil air dari saluran irigasi sawah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut telah berlangsung sekitar satu bulan dan dilaporkan berdampak pada sekitar 40–50 rumah warga di RT 06/RW 02. Sejumlah warga bahkan harus mencari air ke saluran irigasi untuk mandi, mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga. Sementara untuk kebutuhan memasak, sebagian warga meminta air dari wilayah sekitar yang sumurnya masih tersedia.

Salah seorang warga, Siti Nur Amnik (55), mengaku setiap pagi mengambil air dari saluran irigasi di dekat rumahnya. Sumur miliknya sudah tidak dapat diandalkan karena airnya mengering.

“Sumurnya gak ada airnya, sudah hampir sebulan,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Suntani (66). Warga yang sehari-hari berdagang pentol itu mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih. Ia menduga kondisi tersebut semakin parah setelah irigasi perpompaan milik Kelompok Tani (Poktan) Guwo beroperasi.

Menurut Suntani, sebelum adanya aktivitas pemompaan, kondisi sumur warga masih normal. Setelah pompa digunakan untuk mengairi sawah, debit air sumur di permukiman disebut terus berkurang hingga akhirnya mengering.

Dugaan hubungan antara pompa irigasi dan mengeringnya sumur warga kini menjadi persoalan yang perlu diuji secara terbuka. Sebab, di satu sisi program irigasi ditujukan untuk mendukung kebutuhan pertanian, tetapi di sisi lain warga permukiman mengaku kehilangan sumber air untuk kebutuhan dasar.

Kepala Dusun Guwo, Erista, membenarkan adanya keluhan warga. Menurut dia, debit sumur memang cenderung berkurang saat musim kemarau. Namun, aktivitas irigasi perpompaan dinilai memperparah kondisi tersebut.

“Kalau tahun lalu sumur-sumur memang mengering sebelum ada sumur bor. Tambah ada sumur bor ini dampaknya lebih,” ujarnya.

Persoalan tersebut telah dilaporkan kepada Dinas Pertanian Kabupaten Jombang. Instansi tersebut kemudian melakukan pengecekan untuk memastikan apakah pengoperasian pompa benar-benar berkaitan dengan menurunnya debit air sumur warga.

Kepala Dinas Pertanian Jombang Much Rony menyatakan pihaknya belum dapat langsung menyimpulkan penyebab kekeringan. Tim lapangan masih mengumpulkan data dan mengevaluasi kondisi sumur warga serta operasional pompa.

Jika hasil pemeriksaan membuktikan adanya dampak terhadap ketersediaan air warga, pemerintah membuka kemungkinan menghentikan pengoperasian pompa tersebut.

Di sisi lain, informasi mengenai proyek tersebut menunjukkan bahwa irigasi perpompaan merupakan program yang melibatkan Kementerian Pertanian, pemerintah daerah dan kelompok tani. Proyek itu disebut menggunakan anggaran APBN 2025 sekitar Rp153 juta dan menggunakan sumur dangkal dengan kedalaman di bawah 100 meter.

Kini, persoalan utama bukan sekadar memastikan sawah memperoleh pasokan air, tetapi juga memastikan program irigasi tidak mengorbankan akses masyarakat terhadap kebutuhan air bersih. Pemeriksaan teknis terhadap kondisi air tanah, pola pemompaan dan hubungan hidrogeologis antara sumur pompa dengan sumur warga menjadi penting agar dugaan tersebut tidak berhenti sebagai keluhan masyarakat maupun asumsi sepihak.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.