Petugas Lapas Mojokerto Mengajar Kitab Warga Binaan

oleh -137 Dilihat
oleh
Petugas Lapas Mojokerto Mengajar Kitab Warga Binaan
Sidik Aji Pribadi saat mengajar kitab untuk warga binaan di Masjid At-Taubah Lapas Kelas IIB Mojokerto.
banner 468x60

MOJOKERTO, Garudasatunews.id – Aktivitas pembinaan keagamaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto menghadirkan pemandangan berbeda setiap sore. Di Masjid At-Taubah, sejumlah warga binaan mengikuti pengajian kitab yang dipandu oleh salah satu pegawai lapas, Sidik Aji Pribadi.

Sidik Aji Pribadi (30) dikenal sebagai petugas lapas yang aktif mengajar kitab klasik kepada warga binaan sebagai bagian dari program pembinaan rohani di dalam lembaga pemasyarakatan.

Bagi Sidik, kegiatan mengajar tersebut bukan sekadar aktivitas tambahan di luar tugas penjagaan, melainkan bagian dari tanggung jawab moral yang ia rasakan sejak lama. Latar belakangnya sebagai santri sejak kecil mendorongnya membagikan ilmu agama kepada para warga binaan yang sedang menjalani masa pembinaan.

“Latar belakang saya dari pesantren. Saya ingin menularkan ilmu kepada warga binaan agar apa yang saya sampaikan bisa bermanfaat,” ujar Sidik, Sabtu (14/3/2026).

Pria asal Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini menempuh pendidikan dasar di MI Bustanul Ulum Mojokerto sebelum melanjutkan pendidikan pesantren di Jombang saat menempuh jenjang SMP hingga SMA di SMA Darul Ulum.

Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Selama kuliah, ia juga menimba ilmu di Ma’had Al Ali serta Pondok Pesantren Sabilur Rosyad.

Bekal pendidikan pesantren tersebut kini dimanfaatkan Sidik untuk membina warga binaan melalui kelas Madrasah Diniyah yang digelar secara rutin di dalam lapas.

Dalam pengajian tersebut, warga binaan mempelajari sejumlah kitab klasik yang lazim dipelajari di lingkungan pesantren, di antaranya kitab fikih Fathul Qorib, hadis Arba’in Nawawi, hingga tafsir Al Idris.

Program pembinaan keagamaan tersebut disusun secara bertahap, dimulai dari warga binaan yang telah mampu membaca Al-Qur’an hingga mereka yang siap mempelajari kitab, tafsir, hadis, serta ilmu tata bahasa Arab seperti nahwu dan sharaf.

Lapas Kelas IIB Mojokerto juga menyelenggarakan wisuda santri setiap tahun bagi warga binaan yang dinilai telah memenuhi standar pembelajaran keagamaan.

“Setiap tahun ada wisuda santri seperti di pesantren. Mereka yang dinilai sudah memenuhi standar keilmuan akan diwisuda,” jelasnya.

Sidik meyakini pembinaan keagamaan dapat menjadi bekal penting bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat setelah menyelesaikan masa hukuman.

Menurutnya, ilmu agama yang dipelajari di dalam lapas diharapkan mampu menjadi pegangan moral sekaligus bekal untuk memperbaiki kehidupan mereka di masa depan.

“Harapannya ketika mereka keluar, ada perubahan dalam diri mereka dan memiliki bekal ilmu agama yang bisa diamalkan,” katanya.

Komitmen Sidik dalam pembinaan keagamaan juga mendapat dukungan dari Kepala Lapas Kelas IIB Mojokerto. Melalui program tersebut, Sidik bahkan memperoleh kesempatan mengikuti seleksi kenaikan pangkat melalui jalur prestasi pembinaan.

Ia tercatat sebagai salah satu dari delapan pegawai Lapas Mojokerto yang memperoleh kenaikan pangkat dari golongan 2B menjadi 3A.

Sidik sendiri telah mengabdi sebagai petugas pemasyarakatan sejak 2017. Ia sempat bertugas di Lapas Malang selama tiga tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke Lapas Kelas IIB Mojokerto pada 2020.

Selain menjalankan tugas sebagai petugas penjagaan, ia terus berupaya menumbuhkan semangat belajar agama bagi warga binaan sebagai bagian dari proses pembinaan dan perubahan di balik jeruji penjara. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.