Perlintasan Tanpa Palang, Ancaman Nyata Arus Balik

oleh -27 Dilihat
oleh
Perlintasan Tanpa Palang, Ancaman Nyata Arus Balik
Petugas menjaga jalur perlintasan langsung yang tidak memiliki palang pintu selama momen arus balik Lebaran.
banner 468x60

LUMAJANG, Garudasatunews.id – Banyaknya jalur perlintasan langsung (JPL) kereta api tanpa palang pintu di Kabupaten Lumajang menjadi sorotan serius di tengah lonjakan arus mudik dan balik Lebaran 2026. Kondisi ini dinilai membuka potensi risiko kecelakaan yang belum tertangani secara menyeluruh.

Data PT KAI Daop 9 Jember mencatat terdapat 29 titik perlintasan di wilayah Lumajang, dengan 7 di antaranya masih tidak dijaga atau belum dilengkapi palang pintu. Fakta ini menunjukkan masih adanya celah keselamatan di jalur transportasi vital yang dilintasi masyarakat setiap hari.

Lonjakan volume perjalanan kereta api selama periode Lebaran semakin memperbesar risiko tersebut. Tercatat lebih dari 118 ribu penumpang menggunakan layanan kereta sejak arus mudik, sementara pada masa arus balik, jumlah penumpang harian bisa mencapai 13 ribu orang.

Dinas Perhubungan Lumajang mengklaim telah mengambil langkah antisipatif dengan menyiagakan 33 petugas jaga lintasan tambahan di titik-titik rawan. Namun, sebagian besar petugas tersebut merupakan relawan, yang menimbulkan pertanyaan terkait standar kompetensi dan keberlanjutan pengamanan.

Penjagaan dilakukan selama 24 jam dengan sistem dua shift, siang dan malam. Meski demikian, keterbatasan fasilitas fisik seperti palang pintu tetap menjadi persoalan utama yang belum terselesaikan secara permanen.

Di sisi lain, KAI Daop 9 Jember menyebut telah melakukan penutupan perlintasan liar dan berencana menutup empat titik tambahan. Langkah ini dinilai sebagai upaya preventif, namun belum cukup untuk menutup seluruh potensi bahaya di lapangan.

Puncak arus balik yang terjadi pada Selasa (24/3/2026) semakin menguji kesiapan sistem pengamanan di perlintasan sebidang. Tanpa percepatan pembangunan infrastruktur keselamatan, risiko kecelakaan di jalur tanpa palang pintu tetap menjadi ancaman nyata bagi masyarakat.

Kondisi ini membuka urgensi evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan perlintasan kereta api, terutama di daerah dengan intensitas perjalanan tinggi namun belum didukung fasilitas keselamatan memadai. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.