Pelajar SMKN 1 Tulungagung Panen 3,5 Ton Melon Modern

oleh -27 Dilihat
oleh
Pelajar SMKN 1 Tulungagung Panen 3,5 Ton Melon Modern
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai saat meninjau panen perdana melon Inthanon di SMKN 1 Tulungagung
banner 468x60

TULUNGAGUNG, Garudasatunews.id – Inovasi pertanian berbasis teknologi yang dikembangkan SMKN 1 Tulungagung membuahkan hasil. Melalui budidaya melon menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) yang terintegrasi dengan AutoGrow System, para pelajar sekolah tersebut berhasil menghasilkan sekitar 3,5 ton melon dalam satu kali panen.

Capaian tersebut menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan SEMESTA Harvest Day 2026. Program ini menunjukkan bahwa pembelajaran vokasi tidak hanya berorientasi pada teori dan praktik di ruang kelas, tetapi juga mampu menghasilkan produk pertanian bernilai ekonomi yang siap dipasarkan. Produksi melon dilakukan di greenhouse seluas 949 meter persegi dengan kapasitas sekitar 2.350 tanaman.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengapresiasi langkah SMKN 1 Tulungagung yang dinilai berhasil mengubah lahan sekolah menjadi laboratorium pembelajaran produktif berbasis teknologi. Menurutnya, model pembelajaran tersebut layak menjadi contoh bagi sekolah kejuruan lain yang memiliki konsentrasi keahlian di bidang pertanian.

Pemanfaatan AutoGrow System memungkinkan siswa memantau kondisi tanaman secara real time melalui telepon seluler. Teknologi tersebut digunakan untuk mengawasi kelembapan, perkembangan tanaman, hingga menentukan waktu panen yang tepat sehingga proses budidaya menjadi lebih efektif dan terukur.

Selain mengandalkan varietas Melon Inthanon, sekolah juga mengembangkan Melon Diva 15 di greenhouse terpisah dengan media tanam polibag yang memadukan tanah, cocopeat, dan pupuk organik. Total luas greenhouse budidaya melon yang dikelola sekolah mencapai sekitar 1.109 meter persegi.

Dari sudut pandang pengembangan pendidikan vokasi, keberhasilan ini menunjukkan transformasi pembelajaran pertanian yang semakin adaptif terhadap kemajuan teknologi. Siswa tidak hanya belajar menanam, tetapi juga memahami pengelolaan produksi, pengendalian kualitas, hingga strategi pemasaran hasil panen.

Kepala SMKN 1 Tulungagung, Ning Fadlillah, menjelaskan bahwa pengembangan budidaya melon diperkuat melalui program SIKAP dan kemitraan dengan dunia industri, salah satunya Vertindo Semarang. Melalui kerja sama tersebut, siswa memperoleh pendampingan teknis sekaligus pengalaman praktik kerja lapangan yang relevan dengan kebutuhan industri pertanian modern.

Proses budidaya dilakukan oleh 32 siswa dari Konsentrasi Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH). Melon dipanen setelah berumur sekitar 65 hingga 70 hari setelah tanam, kemudian menjalani proses pemeriksaan kualitas sebelum dipasarkan. Pada tahap awal, pemasaran dilakukan melalui mitra industri, namun sekolah mulai mendorong siswa untuk terlibat langsung dalam pemasaran mandiri dengan tetap menjaga standar mutu dan harga produk.

Keberhasilan panen melon tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana sekolah kejuruan dapat menjadi pusat pengembangan keterampilan, kewirausahaan, dan teknologi pertanian. Model pembelajaran berbasis produksi dinilai mampu membekali siswa dengan pengalaman nyata sehingga lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja maupun mengembangkan usaha mandiri di sektor agribisnis.

(Red-Garudasatunews) 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.