Pakan Melonjak, Peternak Ayam Ngawi Berguguran

oleh -57 Dilihat
oleh
Pakan Melonjak, Peternak Ayam Ngawi Berguguran
Gelombang penutupan usaha mulai menghantui sentra peternakan ayam petelur di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
banner 468x60

NGAWI, Garudasatunews.id – Kenaikan harga pakan yang tidak diikuti membaiknya harga telur mulai mengancam keberlangsungan usaha peternak ayam petelur di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Tekanan biaya produksi membuat sejumlah peternak memilih menghentikan operasional dan mengosongkan kandang untuk menghindari kerugian yang terus berlanjut.

Kondisi tersebut terlihat di Desa Ploso, Kecamatan Kendal, Rabu (1/7/2026). Sejumlah kandang yang sebelumnya diisi ribuan ayam petelur kini tidak lagi beroperasi. Para peternak menilai biaya produksi telah melampaui pendapatan yang diperoleh dari penjualan telur.

Berdasarkan keterangan peternak, harga pakan ayam petelur naik menjadi Rp455.500 per sak ukuran 50 kilogram dari sebelumnya sekitar Rp408 ribu. Di sisi lain, harga telur di tingkat peternak justru turun menjadi sekitar Rp19 ribu per kilogram, dari sebelumnya berada di kisaran Rp23 ribu per kilogram.

Ketimpangan antara kenaikan biaya produksi dan penurunan harga jual membuat margin usaha terus menyusut. Sejumlah peternak mengaku mengalami kerugian harian sehingga memutuskan menghentikan usaha sementara.

Salah seorang peternak, Ratnawati (45), mengatakan keputusan mengosongkan kandang diambil setelah usahanya tidak lagi mampu menutup biaya operasional. Menurutnya, kondisi serupa juga dialami banyak peternak lain di Desa Ploso dalam beberapa bulan terakhir.

“Harga pakan terus naik, sementara harga telur justru turun. Saya memilih menghentikan usaha dan mengosongkan kandang agar kerugian tidak semakin besar,” ujarnya.

Sebagian peternak lainnya masih berupaya bertahan dengan memperluas jaringan pemasaran. Rokhim (59), misalnya, mengaku kini memasarkan telur hingga wilayah Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah sebelumnya hanya melayani pasar di Sragen, Jawa Tengah.

Meski demikian, strategi tersebut belum mampu memperbaiki kondisi usaha. Selain harga jual yang masih rendah, pembayaran dari pembeli baru diterima beberapa hari setelah transaksi sehingga arus kas peternak semakin tertekan.

“Sekarang pemasaran diperluas sampai Kaliurang, tetapi kondisi tetap berat. Harga pakan naik, harga telur rendah, bahkan pembayaran tidak langsung diterima,” kata Rokhim.

Desa Ploso merupakan salah satu sentra ayam petelur di Kecamatan Kendal dengan sekitar 60 peternak yang memiliki populasi antara 2.000 hingga 10.000 ekor ayam per kandang. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah peternak yang menghentikan usaha dilaporkan terus bertambah akibat tingginya biaya produksi dan lemahnya harga telur di tingkat peternak.

Para peternak berharap terjadi stabilisasi harga pakan dan perbaikan harga telur agar usaha peternakan rakyat dapat kembali berjalan dan tidak semakin banyak pelaku usaha yang menghentikan produksinya.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.