Operasional PLTA Wonorejo Dipangkas Akibat Debit Air Menurun

oleh -24 Dilihat
oleh
Operasional PLTA Wonorejo Dipangkas Akibat Debit Air Menuruun
Operasional PLTA Wonorejo Dipangkas Akibat Debit Air Menuruun
banner 468x60

TULUNGAGUNG, Garudasatunews.id – Penurunan elevasi muka air Waduk Wonorejo di Kabupaten Tulungagung mulai berdampak pada operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Selama musim kemarau, waktu operasi pembangkit dikurangi dari delapan jam menjadi lima jam per hari sebagai langkah menjaga ketersediaan air untuk kebutuhan yang lebih prioritas.

Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Sungai Brantas 2 Perum Jasa Tirta 1, Nina Meitasari, mengatakan elevasi muka air waduk mengalami penurunan sekitar 10 meter akibat minimnya curah hujan yang mengurangi pasokan air masuk ke waduk.

Menurutnya, elevasi Waduk Wonorejo yang sebelumnya berada pada posisi 179 meter di atas permukaan laut (mdpl) kini turun menjadi 169,74 mdpl. Kondisi tersebut memengaruhi volume air yang dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik.

“Dengan elevasi turun otomatis operasi PLTA berkurang. Sekarang hanya lima jam per hari,” ujar Nina.

Meski durasi operasional dipangkas, PLTA Waduk Wonorejo tetap dioperasikan pada waktu beban puncak kebutuhan listrik nasional, yakni mulai pukul 19.00 WIB hingga 24.00 WIB. Kebijakan itu dilakukan agar energi listrik yang dihasilkan tetap memberikan kontribusi optimal ketika konsumsi masyarakat meningkat pada malam hari.

Nina menjelaskan, produksi listrik saat ini mencapai sekitar 5,7 megawatt dari kapasitas maksimal pembangkit sebesar 6,3 megawatt.

Perum Jasa Tirta 1 menegaskan bahwa pengelolaan Waduk Wonorejo selama musim kemarau lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat dan irigasi pertanian dibandingkan peningkatan produksi listrik. Air dari waduk tersebut saat ini dimanfaatkan untuk mengairi sekitar 7.000 hektare lahan pertanian di wilayah Tulungagung dan sekitarnya.

“Prioritas kami untuk memberikan pelayanan irigasi dan air baku masyarakat,” kata Nina.

Kebijakan tersebut diambil sebagai upaya menjaga keberlanjutan pasokan air bagi sektor pertanian di tengah musim kemarau sehingga produktivitas lahan tetap dapat dipertahankan meski debit air waduk mengalami penurunan.

Perum Jasa Tirta 1 juga telah melakukan proyeksi terhadap kondisi waduk apabila musim kemarau berlangsung hingga akhir 2026 tanpa tambahan aliran masuk air (inflow) yang signifikan. Berdasarkan hasil perhitungan, elevasi muka air diperkirakan masih berada pada kisaran 141 meter di atas permukaan laut.

Meski diproyeksikan terus mengalami penurunan, kondisi tersebut dinilai masih berada dalam batas aman untuk mendukung fungsi utama Waduk Wonorejo sebagai penyedia air baku dan irigasi.

“Penurunan elevasi Bendung Waduk Wonorejo tentu akan berpengaruh pada operasional PLTA. Namun kami pastikan tetap aman,” pungkas Nina.

Perum Jasa Tirta 1 menyatakan akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan elevasi waduk dan kondisi hidrologi selama musim kemarau. Penyesuaian operasional PLTA akan dilakukan secara berkala dengan tetap mengutamakan keberlangsungan layanan air baku bagi masyarakat serta kebutuhan irigasi guna mendukung ketahanan pangan di wilayah tersebut.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.